Cimanggis, Rumah

Rumah tua peninggalan Belanda terletak di daerah Cimanggis, jalan ke arah Bogor, dibangun antara tahun 1775 dan 1778 oleh David J. Smith. Rumah ini mengganti sebuah pesanggrahan sederhana. Pemilik rumah adalah janda Gubernur Jenderal van der Parra, yang meninggal tahun 1787. Smith mewarisinya dengan seluruh perabotan dan binatangnya. Tetapi, dua tahun kemudian seluruh miliknya termasuk beberapa perkebunan luas yang lain disita untuk melunasi hutangnya. Pemilik rumah ini berganti-ganti. Pada tahun 1834 gempa bumi hebat menghancurkan Istana Bogor kedua. Banyak rumah besar di antara Bogor dan Jakarta, termasuk Rumah Cimanggis mengalami kerusakan.

Dari sudut arsitektur, Cimanggis merupakan contoh yang baik rumah tuan-tanah abad ke-18 dengan atap yang tinggi dan lebar. Sepuluh tiang batu bata, yang dekat pintu berpasang-pasangan, bersama dengan banyak tiang kayu menopang atap, merentang atas serambi lebar. Ruang jendela di atas pintu-pintu utama berukiran artistic, yakni jambangan bunga (luar) dan malaikat (dalam). Dari sebelah luar, rumah ini tampak sebagai rumah dalam gaya terbuka, walaupun bagian dalam memperlihatkan unsur-unsur gaya Louis XV. Jendela lebar dan tinggi yang melengkung di bagian atas dan dapat didorong ke atas, merupakan unsur khas beberapa gedung masa itu. Tingginya langit-langit di ruang utama atas pilaster-pilaster dengan kepala dalam gaya klasisisme menjamin suasana sejuk, apalagi banyak pepohonan mengelilingi rumah ini. Rumah Cimanggis sepantasnya dipelihara sebaik-baiknya, karena tinggal dua, tiga rumah saja yang pernah berperan membuka hutan antara Jakarta-Bogor pada abad ke 18.

Pasar Cimanggis yang dipunyai pemilik rumah, dahulu menjadi pas yang penting. Tempat itu merupakan peristirahatan sejenak bagi mereka, yang mengadakan perjalanan yang melelahkan akibat kondisi jalan antara Batavia ke Buitenzorg yang menyedihkan. Selain itu kuda perlu diganti. Pemakai jalan dapat beristirahat pada pos kedua dari Batavia yang dilengkapi dengan mata air panas, dekat jembantan di atas sungai Ciliwung. Perjalanan ke Bogor masih memakan waktu empat jam, seperti diceritakan Gubernur-Jenderal von Imhoff (1750). Bahkan Marsekal Daendels pernah tak sampai ke Bogor dalam waktu satu hari, karena jalan seperti rawa, sungai-sungai meluap dan jembatan rusak.