CHRISTIAN HADINATA

Seorang legenda bulutangkis Indonesia, spesialis pemain ganda. Lahir di Purwokerto, 11 Desember 1949, dengan nama Tjhie Beng Goat sebagai putra bungsu dari enam bersaudara keluarga Hadinata, seorang guru SD Kristen. Dia sebenarnya lebih menggemari olahraga sepakbola. Sampai menjadi mahasiswa STO di Bandung tahun 1970, ia tetap belum menampakkan bakat berprestasi. Semangat juangnya kurang menonjol. Ia adalah sosok yang lemah lembut, kalem, rendah hati dan pendiam, dijuluki oleh rekan-rekan seklubnya di PB Meutiara sebagai pendeta. Prestasi emas Christian dicetak pertama kali tahun 1971 sebagai pemain ganda putra dan ganda campuran. Di ganda putra berpasangan dengan Atik Jauhari menjadi juara nasional dan juara ganda campuran Asia berpasangan dengan Retno Kustijah.

Selanjutnya dengan berganti-ganti pasangan, Christian dapat mencapai prestasi terbaik seperti dengan Ade Chandra (juara Asian Games 1978, All England 1972 dan 1973, serta juara dunia 1980). Bersama Boby Ertanto juara di All England 1983 dan Indonesia Terbuka 1981. Berpasangan dengan Imelda Wiguna memenangi All England 1979 dan juara dunia 1980. Bersama Ivana Lie juara dalam Asian Games 1982, Indonesia Terbuka 1984, dan Piala Dunia 1985. Sepanjang enam kali memperkuat Tim Piala Thomas (1972-1986). Christian bersama pasangannya (siapa pun dia) selalu merebut poin. Di ajang beregu ini, ia pernah berpolineuritis pasangan dengan Hadiwibowo dan Liem Swie King.

Pada tahun 1986 di usia 37 tahun, ia pensiun sebagai pemain dan beralih menjadi pelatih. Dari tangannya lahir pasangan-pasangan Ricky Achmad Subagdja/Rexy Mainaky, Gunawan/Bambang Suprianto, dan Denny Kantono/Antonius. Christian juga ikut membentuk Candra Wijaya/Sigit Budiarto, Tony Gunawan/Hahru Haryanto, yang dengan kombinasi pasangannya telah merebut emas di Olimpiade 2000 dan dua gelar juara dunia, tahun 1997 dan 2001, serta memberi fondasi yang kuat bagi pemain-pemain muda saat ini. Kemenangan Tim Piala Thomas Indonesia bulan Mei 2002 di Guangzhou semakin lengkap saat Christian, namanya dicantumkan Hall of Fame, penghargaan tertinggi di dunia bulu tangkis baginya. Ia adalah orang Indonesia ketiga, setelah Rudi Hartono dan Sudirman yang menerima penghargaan serupa.