Chinezenmoord

Peristiwa kerusuhan yang disebut juga Chinese Massacre, pembantaian orang-orang Cina, terjadi pada bulan Oktober tahun 1740. Orang Jawa menyebutnya sebagai Geger Pacinan. Kejadian ini dipicu oleh peraturan yang dikeluarkan oleh Kompeni terhadap imigran Cina yang semakin bertambah besar. Pada masa itu karena kurangnya pekerjaan menyebabkan banyak pengangguran dan praktek kolusi di tubuh pejabat VOC, terutama tentang kebijakan yang dikeluarkan terhadap orang Cina. Banyak pendatang baru Cina menganggur dan bergerombol di daerah luar kota. Akhirnya, orang Cina mulai mengganggu ketenangan dan merampok di daerah dekat Batavia.

Akibat dari tragedi kemanusiaannya ini, perekonomian Batavia mengalami pukulan berat karena perginya orang Cina dengan keahliannya yang menjadi urat nadi perdagangan dan industri Batavia. Dulu orang cina bisa ditemui di daerah Kali Besar namun setelah peristiwa ini mereka dilarang tinggal di dalam tembok kota. Pos keamanan dibangun lagi di sebuah benteng kecil yang dulunya digunakan untuk menjaga selatan Molenvliet. Benteng ini dibangun tahun 1656 dan pernah dibongkar pada tahun 1729.

Orang Cina sejak zaman dahulu banyak berkunjung ke Indonesia untuk berdagang. Tahun 1620, JP Coen merebut dan menduduki Jayakarta, orang-orang Cina diterima dengan tangan terbuka dan baru setahun sudah ada 800 orang bermukim dan bertempat tinggal di Batavia. Banyak kemudahan dan kelonggaran yang diberikan pada orang Cina untuk bermukim dan berusaha di Batavia, sehingga jumlah mereka yang bermukim di Batavia meningkat pesat. Meningkatnya jumlah tersebut mengakibatkan banyak pengangguran sehingga banyak yang mencuri, merampok, dan membunuh. Hal ini mengancam ketentraman Jakarta dan merupakan ancaman bagi kepentingan dan kekuasaan serta kewibawaan VOC atau Kompeni Belanda.Untuk mengatasinya VOC mengeluarkan peraturan-peraturan, yang banyak dilanggar oleh orang-orang Cina sehingga timbul kekacauan-kekacauan dan setelah itu tersebar berita orang Cina sudah bersatu dan bersiap-siap mengadakan pemberontakan melawan Kompeni.

Pada waktu gerombolan Cina menyerang sebuah kubu tembok kota sebelah barat pada malam hari, pemerintah menyuruh menggeledah semua rumah Cina di dalam kota. Pada tanggal 9 Oktober 1740, waktu
penggeledahan senjata dimulai, tiba-tiba sebuah rumah kebakaran tanpa diketahui sebabnya, lalu keadaan menjadi tak terkendali lagi. Dalam pemberontakan itu, orang Cina berhasil membangun barikade di jalan-jalan, muncul bendera dan umbul-umbul bertuliskan "basmi ketidakadilan" atau "membela si miskin" tersebar dimana-mana. Gedung dan rumah mulai dibakar dan penduduk mulai mengungsi sampai 9 Oktober 1740, Gubernur Jenderal akhirnya memerintahkan untuk "memusnahkan orang Cina di Batavia".

Peristiwa tersebut menjadi dasar bagi Kompeni untuk berlaku sewenang-wenang, sehingga terjadilah pembantaian terhadap ribuan orang Cina. Kemudian tanggal 10 Oktober 1740 ada perintah dari Gubernur Jenderal Valckenier untuk membunuh orang-orang Cina yang ada dalam penjara dan rumah sakit Cina, menyebabkan terjadinya pembantaian besar-besaran sehingga Batavia menjadi kacau balau. Banyak rumah dan gedung musnah, sehingga beberapa saat kehidupan ekonomi dan kehidupan industri yang banyak didominasi orang-orang Cina mengalami kelesuan bahkan kelumpuhan.

Pada bulan Oktober 1740 itu sekitar 10.000 orang Cina mati di Batavia. Mereka yang selamat melarikan diri ke Jawa Tengah dan dengan cepat memperoleh dukungan dari Sunan Paku Buwana II, yang bermaksud memanfaatkan mereka melawan VOC. Peristiwa tersebut menjadi tanggungjawab Gubernur Jenderal Adriaan Valcknier yang kemudian diperiksa dan ditahan di Stadshuis Batavia sampai kira-kira delapan tahun lamanya (1742-1750).