Chairil Anwar

Sastrawan yang juga pelopor angkatan 1945 dan pembaharu satra Indonesia, khususnya puisi. Lahir di Medan 26 Juli 1922 dari pasangan Toeloes dan Saleha, meninggal di Jakarta pada tangal 28 April 1949 dalam usia 27 tahun. Ia menikah dengan Hapsyah tanggal 6 September 1946 dan berpisah setelah mempunyai seorang putri, karena keinginannya untuk selalu ingin hidup bebas tidak terikat.

Ia menempuh pendidikan di Holandsch Inlandsche School (HIS) dan meneruskan di MULO Medan namun tidak sampai selesai. Ia lalu pergi ke Jakarta. Ia mulai dikenal tahun 1945 setelah sajaknya yang berjudul "Aku" dimuat pada Majalah Timur yang dipimpin oleh Nur Sutan Iskandar. Sajak itu ditulis tahun 1943 dan dalam majalah tersebut judulnya diganti menjadi "Semangat". Sajak-sajaknya lebih bersifat ekspresionis, yang mencerminkan pemberontakan jiwa dengan melepaskan semua ukuran-ukuran lama. Chairil Anwar tidak hanya menciptakan sajak yang mencerminkan sifatnya yang individualis tetapi juga mengangkat segi-segi lain dari kehidupan manusia sehingga ia mendapat gelar "Binatang Jalang". Selain Aku, karyanya yang terkenal antara lain: Yang Terhempas dan Terputus (tentang kematian), Doa (tentang kecintaan kepada Tuhan/agama), Kerawang Bekasi, Diponegoro, dan Siap Sedia (cinta tanah air). Selain dari puisi yang secara keseluruhan berjumlah 72 sajak asli, dua sajak saduran dan 11 sajak terjemahan, Chairil Anwar juga membuat prosa sebanyak tujuh buah prosa asli dan empat prasa terjemahan. Dari semua puisi dan prosa yang dikarangnya terdapat 1 buah puisi dan 1 prosa memakai bahasa Belanda.

Dalam proses kreatifnya, Chairil salah satu penyair yang menandatangani "Surat Kepercayaan Gelanggang" di antara penyair lain mencari dan memburu kata secara tepat dan cermat, juga menimbangnya sebelum menuliskan ke dalam sajak-sajaknya. Kadang bahkan harus berhari-hari atau berminggu-minggu untuk mendapatkan kata-kata yang tepat dan cermat itu. Salah satu sajak karya Chairil yang berjudul "Aku" menyiratkan bahwa penyaimya mempunyai vitalitas yang tinggi, individualistis serta semangat yang menggebu-gebu. Coba simak saja penggalan liriknya di bawah ini:

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Dan aku lebih tak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi.