Centraal Burgerlijke Ziekenhuis (cbz)

Pada awalnya merupakan gudang obat Kementrian Kesehatan pemerintah kolonial Belanda, kemudian menjadi suatu rumah sakit pendidikan (Teaching Hospital) yang dibuka pada tahun 1919. Terletak di Jl Diponegoro No. 71, Jakarta Pusat. Dibangun pada tahun 1919-1926 dengan arsitektur bergaya Eropa. Pada awalnya bangunan rumah sakit ini bernama Central Burgelijke Ziekenhuis (Ziekeninrichting) atau disingkat dengan CBZ. Rumah sakit tersebut merupakan kelanjutan dari Sekolah Dokter Jawa Perkembangan selanjutnya CBZ ditingkatkan menjadi School Tal Opleiding Van Indische Artsen (Stovia) di tahun 1900 di Hospitalweg, kemudian berpindah ke gedung baru di Salemba di tahun 1926. Tercatat sebagai direktur pertama CBZ adalah Dr. Hulshoff. Tenaga medis terdiri dari beberapa dokter Belanda, dokter Jawa dibantu para zuster Belanda dan Indonesia baik pria maupun wanita. Tujuan didirikannya rumah sakit ini adalah sebagai pengganti Rumah Sakit Standsverband di penjara Glodok dan sebagai tempat pendidikan klinik bagi para siswa Stovia.


Dari aspek kesejarahan, keberadaan rumah sakit ini menunjukkan adanya kepedulian penguasa Kolonial terhadap masalah kesehatan masyarakat khususnya masyarakat pribumi. Pada sisi lain keberadaan rumah sakit ini juga memberi peluang bagi orang-orang Indonesia untuk menjadi ahli kesehatan sekaligus peluang bagi tumbuhnya kalangan terpelajar Indonesia, yang akhirnya mendukung aktivitas pergerakan nasional.


Saat Indonesia berada di bawah kekuasan Jepang namanya berubah menjadi Ika Dai Gakku Byoin, namun kondisinya semakin buruk dan memprihatinkan. Pihak Jepang juga menganiaya para tenaga medis dan laboratorium seperti Prof. Dr. Mochtar (Kepala Laboratorium). Saat Jepang hampir mengalami kekalahan dari pihak Sekutu, mereka merasa perlu untuk mencetak kader-kader juru kesehatan untuk disebar ke seluruh penjuru kekuasaan Jepang. Dengan demikian diputuskan untuk memberikan ijazah kepada kelas VII, VI, dan V tanpa melalui ujian berat. Kepada para medik kelas VII dan VI diberi ijazah Kangonin dan Kongfu dan kelas V diberikan ijazah Minarai (calon juru rawat). Terakhir bangunan ini menjadi Rumah Sakit Jakarta lalu berubah nama menjadi Rumah Sakit Umum Dr. Cipto Mangunkusumo.