CENG BENG, HARI RAYA

Salah satu perayaan tradisional masyarakat Cina, yang dilaksanakan pada akhir Desember merupakan hari raya tang ce Pada hari itu warga Cina makan kue ronde. Ceng beng diambil dari kata ceng (terang) dan beng Gernih). Karena hari tersebut musim semi di Tiongkok (Cina), maka merupakan kesempatan yang paling baik untuk mengunjungi thiong (pemakaman umum). Sembari membawa hio (dupa batangan untuk sembahyang), warga Cina nyekar di bong (makam) merayakan pertemuan dengan keluarga yang sudah meninggal.

Tiga hari sebelum ceng beng, makam sudah harus dibersihkan. Rumput dan alang-alang dipotong, batu nisan dan bangunan sekelilingnya disikat bersih dengan air dan sabun. Saat ini, karena pemakaman-pemakaman Cina sudah banyak tergusur, mereka pergi ke ke tempat-tempat penitipan abu jenazah. Termasuk ke krematorium di pantai Dadap (perbatasan Jakarta-Tangerang) dan Cilincing. Namun, masih ada pula yang pergi ke pemakaman-pemakaman Cina yang masih tersisa, seperti di Karawaci (Tangerang), Kebon Nanas (Jakarta Timur), Petamburan (Jakarta Pusat), dan Bogor.

Saat berziarah, orang Cina membawa makanan berupa ketupat dan lepet, yang sudah dimasak dua hari sebelumnya. Sehari sebelum ceng beng merupakan hari bebas api. Selama sehari penuh di rumah-rumah tidak diperbolehkan ada api menyala. Tradisi ini berkaitan dengan peristiwa di negeri leluhur Tiongkok. Konon, kala itu ada seorang pangeran yang karena difitnah terpaksa meninggalkan istana. Selama pembuangan dan pengembaraan yang panjang, di antara pengikut pangeran itu terdapat seorang pembesar yang setia. Begitu setianya hingga pernah memotong daging pahanya untuk sanlapan sang pangeran. Sayangnya, ketika pangeran kembali menjadi raja, Kai Cu Tai, nama pengikut setianya, terlupakan. Raja yang kemudian diingatkan hal itu akhirnya mengerahkan rakyatnya untuk mencarinya. Karena tak berhasil, ia pun memerintahkan untuk membakar hutan agar pengikut setianya itu keluar. Tragisnya, orang yang dicari-cari itu ditemukan dalam keadaan terpanggang sambil memeluk ibunya yang telah tua. Raja yang bersedih akhirnya memerintahkan rakyat untuk tidak menyalakan api sehari sebelum ceng beng, sebagai tanda duka. Karenanya, ceng beng juga disebut hari raya makan sajian dingin.

Sesuai kepercayaan mereka, keharusan mengunjungi makam leluhur di hari ceng beng merupakan wujud bakti seorang anak terhadap orang tua dan leluhurnya. Menurut ajaran Khonghucu, bakti ini harus diwujudkan selama hidup dan sesudah meninggal, karena dianggap kebajikan paling utama. Tidak terbatas pada generasi yang masih hidup tetapi juga nenek moyang yang sudah tiada. Anak yang berbakti (hua) -dalam versi mereka- dikasihi dan diberkati thian (Tuhan). Sebaliknya anak yang durhaka (puthau), dianggap sangat terkutuk karena melupakan jasa-jasa orang tua.