Cempedak

Disebut juga Nangka Cina, bernama ilmiah Tartocarpus integer (Thunb.) Merr. Pohon ini tumbuh dengan bercabang banyak, tingginya sampai 25 m, garis tengah batangnya 30-50 cm. Daunnya mirip dengan daun nangka, hanya bulunya lebih banyak. Bunganya tersusun dalam tandan yang berbentuk bundar panjang, terdapat tandan jantan dan betina. Penyerbukan bunga cempedak dilakukan lalat drosophila. Buah semu, berbentuk bulat telur, berkulit tebal, berduri dan berisi banyak biji. Buahnya umumnya bundar memanjang, tapi ada yang bundar, permukaan buahnya tidak sekasar nangka, berwarna hijau kekuningan. Baunya keras seperti bau campuran durian (Durio zibet-hinus) dan kemang (Mangiftra eaesia).

Tanaman ini menyukai daerah yang bercurah hujan cukup banyak, dan keadaan air tanah antara 50-200 cm. Di sekitar Jakarta, cempedak tumbuh dengan baik di Jasinga, Parung dan sedikit di Pasar Minggu. Daging buah cempedak berwarna kuning sampai kuning keputih-putihan, rasanya seperti nangka tetapi lekat. Bijinya lunak, setelah direbus atau dibakar dapat dimakan. Buahnya mengandung protein, kalsium,fosfor; besl; Vitamin A dan C. Biji dan kebabnya digunakan untuk mengobati mencret dan gabag, sedangkan akarnya sebagai obat demam. Perbanyakan dilakukan dengan menggunakan biji atau okulasi dengan mandalika sebagai batang bawah. Kayunya cukup baik untuk bahan bangunan. Kulit pohonnya dapat dipergunakan sebagai zat pewarna dalam pembuatan pakaian. Tanaman ini dapat pula dikembangkan menjadi tanaman hias di halaman rumah, karena bentuk tajuknya yang bagus. Beberapa tempat di Jakarta menggunakan nama buah ini, antara lain: Cipinang Cempedak.