CATUT

Perdagangan gelap di Jakarta yang marak ketika Indonesia dikuasai Jepang. Fenomena ini muncul karena langkanya berbagai barang-barang seperti beras, obat-obatan, tekstil, dan bahan makanan. Kadang- kadang perdagangan catut ini hanya berupa barter, misalnya obat ditukar kain atau barang pecah belah dengan makanan. Selain pedagang catut, tukang loak juga merajalela bahkan harganya jauh lebih mahal dari pada di toko.

Saat itu kehidupan masyarakat di Jakarta memang benar-benar memprihatinkan. Hubungan komunikasi dengan daerah di luar kota putus karena hancurnya jalan, jembatan, dan jembatan kereta api oleh taktik bumi hangus Belanda. Hal ini menyebabkan harga kebutuhan pokok meningkat cepat. Untuk mencegah kekacauan, pemerintah Jepang mengeluarkan peraturan melarang keras menerima atau menjanjikan harga barang, upah, sewa tanah, sewa rumah melebihi harga pada tanggal 1 Januari 1942. Juga ditetapkan harga 1 sembako untuk mengendalikan pasar, misalnya  kuintal beras harganya f 8,30-f 10; 80, 1 kg gula pasir f0,10; 1 kg garam f 0,15; dan 1 kaleng minyak kelapa f 2,50. Daftar harga dalam uang gulden tersebut ditempelkan di pasar dan gang tempat berbelanja supaya bisa dijadikan pedoman. Namun ketentuan ini tidak dipatuhi karena harga makin menggila, misalnya 1 kaleng minyak kelapa berharga f 4,40; 1 kg gula pasir f 0,25; dan 1 liter beras f 0,14.

Persediaan beras di Tanah Abang dan Karet pun mengalami krisis sehingga penduduk hanya makan beras ketan, singkong, ubi talas, atau buah-buahan. Hal ini menyebabkan munculnya beberapa perkumpulan yang ingin membantu rakyat seperti Koperasi Perusahaan Dagang Indonesia di Kampung Pulo Empang dipimpin oleh R. Bunawan dan Perserikatan Warung Bangsa Indonesia (Perwabi) dipimpin oleh B.R. Motik. Perwabi juga dibantu oleh beberapa tokoh nasionalis antara lain Mr. Asaat dan Mr. Kasman Singodimedjo.