CAPGOMEH

Merupakan acara penutup dalam tradisi perayaan tahun baru Imlek, yang jatuh pada malam tanggal 14, pada bulan Februari dan berlangsung dua hari berturut-turut sampai tanggal 15. Di Batavia diadakan semacam karnaval profan, yakni arak-arakan kendaraan hias dengan kembang api yang sangat semarak , sebagaimana dilukiskan dalam novel-novel Cina terkenal. Dalam arakan seperti itu, dengan diterangi lentera-lentera, anak-anak kecil berdandan bagus, naik kereta yang ditarik oleh beberapa pelayan. Arak-arakan ini disebut tjungge (zhuang-yi).

Perayaan tahun baru kini terbatas di beberapa klenteng saja. Banyak orang datang untuk berdoa, menyalakan Jilin-Win raksasa yang bahkan setinggi manusia, yang menyala terus selama dua minggu. Pertunjukkan mirip sandiwara yang dikisahkan para musafir pendahulu, kini sudah tidak ada. Yang masih dapat dilihat ialah pertunjukkan boneka yang digerakkan dengan tangan yang disebut wayang potehi. Banyak pelukis Indonesia yang terinspirasi mengabadikan moment ini, salah satu diantaranya yang menjadi masterpiece adalah lukisan Capgomeh karya Sudjojono.