Candranaya, Gedung

Terletak di Jl. Gajah Mada No. 188, di daerah yang dahulu dikenal sebagai Molenvliet. Merupakan bangunan tua yang cukup bersejarah dan dibangun sekitar abad ke-18 dengan gaya arsitektur Cina. Pada awalnya Gedung Candranaya merupakan bangunan milik tuan tanah Cina dari keluarga Khouw. Keluarga Khouw yang pertama menempati gedung ini adalah Khouw Tjoen. Ketika ia datang dari daratan Cina abad ke-18, sebelum menempati gedung ini terlebih dulu tinggal di Tegal, Jawa Tengah. Dan hanya dalam masa satu generasi, putranya bernama Khouw Tian Seck menjadi seorang kaya raya. Dia memiliki bejibun kekayaan dan sawah di Batavia, Karawang, Cikampek dan Tangerang, sekaligus penggilingan padinya. Dia juga dikenal sebagai tuan tanah dan pemilik gedung-gedung di sekitar Molenvliet (Jl. Gajah Mada dan Jl. Hayam Wuruk), yang kala itu merupakan kawasan elite dan tempat peristirahatan warga Belanda.

Salah seorang cueu Khouw Tian Seck adalah Khouw Youuw Kee. Dia adalah kapiten Cina pada abad ke-19. Salah seorang putranya Khouw Kim An, keluarga Khouw terakhir yang menempati gedung ini, sebelum jadi mayor Cina adalah Ketua Dewan Cina di Batavia. Dia diangkat menjadi mayor pada 1910-1918 dan antara tahun 1927 sampai datangnya Jepang ke Indonesia (Maret 1942). Mayor Khouw Kim An juga anggota volksraad (parlemen bentukan Belanda) dari 1921-1931. Keluarga ini juga membangun gedung yang letaknya berdekatan, masing-masing di Jl. Gajah Mada 174 (kini SMU 2) dan Jl.  Gajah Mada 168 (pernah jadi Kedutaan Besar RR Cina).

Setelah sang mayor meninggal, tahun 1946 gedung ini berganti pemilik. Dan menjadi salah satu pusat kegiatan sosial dan pendidikan masyarakat Cina, yang bernama Sin Ming Hui (Yayasan Terang Hati) dan dipakai untuk kegiatan masyarakat Cina termasuk di dalamnya terdapat sekolah untuk orang-orang Cina dan balai pengobatan. Pada tahun 1957 ketika nama-nama berbau asing di Indonesiakan, namanya diganti jadi Gedung Candranaya.

Secara arsitektural, interior bangunan berlantai marmer ini terdapat berbagai ruangan yang lengkap seperti ruang keluarga, kamar tidur, ruang pelayanan, ruang tunggu tamu dan ruang persembahyangan beserta altarnya di bagian tengah rumah. Ornamen-ornamen dirancang dengan sentuhan kemewahan pada kayu hitam bercat warna prada dengan nilai seni tinggi. Mulai dari pintu masuk utama berhiaskan empat aksara Cina, ukiran empat ekor singa yang menghiasi balok kuda-kuda di ruang utama, sampai panel pintu di bagian dalam yang penuh dengan motif aneka tumbuhan. Ornamen penghias atap sangat sederhana, bentuknya menyerupai dua buah tanduk yang bertumpuk dengan bagian ujung mencuat ke bagian atas tampil polos tanpa ornamen patung naga.

Sekitar tahun 1992, Chandranaya Building dijual kepada seorang pemborong untuk dijadikan kompleks apartemen dan perkantoran. Dengan adanya protes dari beberapa pihak, bangunan utama dari rumah tua Cina ini bisa dipertahankan, namun sudah kehilangan karakter aslinya.