CANDRABHAGA

Sungai yang disebutkan dalam prasasti Purnawarman yang ditemukan di Tugu, Cilincing, Jakarta Utara. Menurut prasasti ini, saluran tersebut digali atas titah Raja Guru, seorang raja yang mendahului Purnawarman, raja Tarumanegara. Dalam bahasa Sanskerta candra artinya bulan, dan bhaga, artinya bagian, adalah kata yang terdapat dalam Prasasti Tugu. Prasasti yang terdapat di Tugu, Jakarta, itu merupakan prasasti terpanjang dari semua peninggalan raja Purnawarman, raja Kerajaan Tarumanegara yang terkenal.

Kata Candrabhaga menunjukkan nama sebuah sungai yang terkenal di tanah Hindu, Punyab. Selain kata Candrabhaga, disebut pula nama sungai lain di Punjab, yaitu Gomati. Kedua nama sungai yang tertera dalam Prasasti Tugu ini menimbulkan berbagai tafsiran dari para ahli purbakala. Purbatjaraka, memperkirakan bahwa candrabaga tersebut sekarang dikenal dengan nama Bekasi dan diperkirakan sebagai pusat Kerajaan Tarumanegara.

Dalam prasasti Tugu ini diceritakan penggalian Candrabhaga oleh Raja Purnawarman, seorang raja yang mulia dan berlengan kuat. Tujuan penggalian adalah mengalirkan air sungai tersebut ke laut, setelah melewati istana kerajaannya. Pada tahun ke-22 masa pemerintahannya, Purnawarman menitahkan untuk menggali sungai ini dilakukan pada bulan phalguna dan caitra, bertepatan dengan bulan Februari dan April menurut perhitungan tarikh Masehi. Panjang galian 6.122 tumbak. Selamatan atau syukuran penggalian dilakukan oleh para brahmana, disertai pemberian hadiah berupa 1.000 ekor sapi.

Menurut dugaan, saluran itu dibuat untuk mengatasi banjir yang selalu melanda daerah pertanian, yang umumnya hujan paling lebat di Jawa Barat turun bulan Januari dan Februari. Pemberian hadiah berupa sapi merupakan lambang tata cara upacara keagamaan tertentu yang menunjukkan kaitan erat dengan kepercayaan Veda. Hal ini diperkuat pula oleh berita yang diperoleh dari prasasti Purnawarman yang lain, yaitu Prasasti Jambu atau Prasasti Pasir Kolengkak.