Burhanuddin Muhamad Diah

Pada saat menjelang proklamasi kemerdekaan,
BM Diah dikenal sebagai tokoh golongan
muda yang radikal dengan organisasi yang
dipimpinnya yaitu Gerakan Angkatan Bam
'45, Lahir 7 April 1917 di Kutaraja, Aceh,
pendidikannya dimulai di HIS Kutaraja tahun
1929, MULO di Medan. Tahun 1935-1937 di
Middelbaar National Handels Col/egeium di
Bandung, di bawah pembinaan dari Dr.
Douwes Dekker- salah seorang pendiri
Indische Partij-yang berhasil mengobarkan
semangatnasionalismenya. Tahun 1937-1938
menjadi direktur utama Sinar Deli Medan di

Pada saat menjelang proklamasi kemerdekaan, BM Diah dikenal sebagai tokoh golongan muda yang radikal dengan organisasi yang dipimpinnya yaitu Gerakan Angkatan Baru '45, Lahir 7 April 1917 di Kutaraja, Aceh, pendidikannya dimulai di HIS Kutaraja tahun 1929, MULO di Medan. Tahun 1935-1937 di Middelbaar National Handels Collegeium di Bandung, di bawah pembinaan dari Dr. Douwes Dekker salah seorang pendiri Indische Partij yang berhasil mengobarkan semangat nasionalismenya. Tahun 1937-1938 menjadi direktur utama Sinar Deli Medan di samping anggota redaksi surat kabar Warta Harian yang terbit di Jakarta 1938-1939. Pada tahun 1938 menerbitkan majalah Peraturan Dunia dalam Film. Pada tahun 1939-1942 menjadi penerjemah dan Kepala Pers Indonesia di Konsulat Jenderal Inggris di Jakarta.

Pada saat Jepang menduduki Indonesia, ia termasuk orang yang terkemuka di Jawa. Berkat profesinya dalam bidang kewartawanan, pada tahun 1942-1948 diangkat jadi pemimpin surat kabar Asia Raja di Jakarta. Walaupun demikian semangat nasionalismenya tetap ada. Bersama dengan Chairul Saleh, Sukarni, Wikana dan lain-lain sering mengadakan pertemuan dan akhirnya 3 Juni 1945 dibentuklah gerakan Angkatan Baru yang bertujuan "memperjuangkan Indonesia merdeka sekarang juga" dan ia diangkat sebagai ketuanya. Akibat gerakannya ini, dipenjarakan dengan tuduhan melakukan tindakan melawan pemerintah militer Jepang.

Pada waktu perumusan teks proklamasi di rumah kediaman Maeda, dihadiri dari golongan pemuda, diantaranya BM. Diah. Setelah perumusan teks proklamasi disetujui hadirin kemudian diketik oleh Sayuti Melik akan tetapi konsep teks proklamasi itu dibiarkan begitu saja, oleh karena itu segera diambil dan dicetak oleh BM. Diah untuk disebarkan ke seluruh Indonesia. Pekerjaan tersebut dilakukan para pemuda yang bekerja di kalangan pers di bawah pimpinannya.

Setelah Indonesia merdeka BM. Diah diangkat sebagai anggota KNIP Malang (1945-1952). Pada tanggal 1 Oktober 1945 ia menerbitkan surat kabar Merdeka. Selanjutnya pada tahun 1952-1955 diangkat menjadi anggota DPRS. Kegiatan beliau dalam pemerintahan terus berlangsung secara berturut-turut, yaitu tahun 1957-1959 sebagai anggota Dewan Nasional, Dewan Penasehat Presiden Soekarno.

Tahun 1959-1962 diangkat sebagai Duta Besar RI di Chekoslovakia dan Hongaria. Tahun 1960-1962 sebagai Gubernur Atomic Energy Agency (IAEA) mewakili Indonesia di Wina. Tahun 1962-1964 sebagai Duta Besar RI di Kerajaan Muangthai, Bangkok dan tahun 1966-1968 diangkat sebagai Menten Penerangan RI.

Kegiatannya dalam jurnalistik pun terus berlanjut, tahun 1945 memimpin redaksi surat kabar Merdeka dan surat Kabar Indonesia Observer. Tahun 1947 ia meliput keadaan Jerman Barat dan Berlin yang baru kalah perang. Tahun 1949 (Juli-November) sering mengadakan wawancara dengan pemimpin-pemimpin dunia mengenai politik diantaranya; Presiden Najib dari Mesir, Perdana Menteri dari Nehru dari India, Perdana Menteri Chou En Lai dari Cina, Perdana Menteri Margereth Thacher dari Inggris dan lain-lain.

Tahun 1954 ia menerbitkan surat kabar bahasa Inggris Indonesia Observer. Tahun 1957 diangkat menjadi komisi pemerintahan untuk menyusun Undang-Undang Pers Indonesia. Tahun 1971-1973 menjadi ketua PWI Pusat. Tahun 1974 menjadi anggota ketua dewan pembina PWI-Pusat, tahun 1978-1987 sebagai ketua Harian Dewan Pers Indonesia. Tahun 1987 menjadi anggota panitia penasehat untuk ketua Konferensi Menteri-Menteri Penerangan dari negara-negara Non Blok. Selain itu, ia juga mengadakan wawancara khusus dengan Presiden Michael Garbachev dari USRR mengenai Glasnots dan Perestroika.

Pada tahun 1975 bersama teman-temannya mendirikan Yayasan 17 Agustus 45 yaitu lembaga yang mempelajari ilmu politik, sosial, kemanusiaan, dan ekonomi. Tahun 1975-1979 sebagai ketua Komisariat Daerah Persatuan Perhotelan dan Restoran Republik Indonesia (PHRI). Karya tulisnya yang sudah dibukukan, yaitu Angkatan Baru 1945 terbitan tahun 1983, Meluruskan Sejarah terbitan 1984, dan Mahkota Bagi Seorang Wartawan terbitan 1988. Sehubungan dengan pengabdiannya terhadap pemerintah Republik Indonesia, memperoleh penghargaan berupa [removed][removed] bintang Mahaputra kelas III, bintang negara Hongaria dan Ethiopia.