Bumbu Mayat

Air yang biasa dipakai untuk memandikan orang mati dalam tradisi kematian Betawi. Bumbu mayat terdiri dari kembang tujuh rupa, daun dadap dan daun pandan yang diiris halus, kayu cendana, kapur barus dan air mawar, yang kemudian ditaruh di dalam air yang akan dipergunakan untuk memandikan mayat. Perlengkapan tersebut biasanya disiapkan oleh orang khusus yang disebut  tukang mandiin orang mati, yang hafal surat Yasien dan Al-Mulk. Sepanjang memandikan jenazah dia membaca kedua surat itu.

Pertama-tama mayat diguyur dengan air biasa dan kemudian berturut-turut air daun dadap, air daun pandan, air kayu cendana, air kapur barus dan air mawar. Setelah itu tukang mandiin mengambilkan air wudhu bagi mayat. Selesai dimandikan, mayat dibungkus dengan kain kafan yang sudah dilengkapi dengan kapas, kembang tujuh rupa dan kayu cendana halus. Biasanya kain kafan dibeli atau sebanyak 12 meter (untuk dewasa all size) dan dari ukuran ini dibagi empat. Tiga potong (ditumpuk tiga lapis) untuk membungkus mayat dan yang sepotong dibuatkan semacam celana dan baju yang nantinya akan dipakaikan kepada mayat. Sementara mayat dimandikan, beberapa orang mempersiapkan dinding ari dan nisan. Orang Betawi membuat dinding ari dari bahan (kayu/bambu) yang mudah dimakan rayap. Setelah dibungkus dengan kain kafan, mayat dimasukkan ke dalam kurung batang dan dibawa ke masjid untuk dishalatkan.