BULENG

Buleng atau ngebuleng (dongeng) adalah sejenis cerita lisan yang dibawakan dalam bentuk prosa atau bentuk prosa liris. Sesuai dengan isi cerita, biasanya bahasa yang dipergunakan oleh Buleng adalah bahasa "Melayu Tinggi" yang dicampur dengan Bahasa Sunda. Sebagai salah satu bentuk sastra lisan Betawi ia bisa berupa dongeng atau cerita yang dibawakan oleh tukang cerita. Judul-judul dongeng yang sering dibawakan antara lain: Gagak Karancang, Telaga Warna, Dalem Bandung, Ciung Wanara, dan Raden Gondang, dan lain sebagainya. Tukang cerita yang ada di Jakarta saat ini sebagian besar sudah lanjut usia, antara 70-80 tahun. Tukang cerita biasanya mendapat panggilan dari orang yang mempunyai hajatan untuk ikut memeriahkan malam ngangkat, yaitu malam sebelum pesta yang sesungguhnya dilaksanakan. Pada umumnya tukang cerita tidak mendapat imbalan uang, tetapi mereka mendapatkan makanan dan minuman dan pada waktu pulang mereka diberi oleh-oleh untuk keluarganya.

Di beberapa tempat, seperti di Caracas, Cijantung, dan Kali Malang, masih terdapat orang yang pandai bercerita dan dijuluki buleng. Kata buleng yang sebenarnya juga berarti "cerita atau dongeng". Di kalangan masyarakat Betawi, buleng dibedakan antara dongeng dengan cerita. Dongeng dipergunakan untuk menyebut cerita-cerita kerajaan, yaitu cerita para raja atau bangsawan, dan babad. Sedangkan cerita, kadang-kadang disebut cerita roman, dipergunakan untuk menyebut cerita-cerita dari kehidupan rakyat, yakni kisah kehidupan sehari-hari baik di masa lampau maupun masa kini.