Buitenzorg

Berdiri pada tahun 1745, merupakan penggabungan dari sembilan buah kampung di bawah satu pemerintahan di bawah Kepala Kampung Baru yang diberi gelar demang. Ke sembilan kampung itu ialah Cisarua, Pondok Gede, Ciawi, Ciomas, Cijeruk, Sindang Barang, Balubur, Darmaga dan Kampung Baru. Gabungan kesembilan kampung inilah yang disebut "Regentschap Kampung Baru" yang lalu menjadi Regentschap Buitenzorg.

Buitenzorg merupakan sepatah kata Belanda yang berarti tanpa urusan (zanderzorg). Pada waktu Gustaaf W. van Imhoff menjabat sebagai Gubernur Jenderal VOC 1741-1750, ia dan orang Belanda lainnya merasakan ketidaknyamanan di lingkungan hidup dan lingkungan kerjanya. Suasana di benteng Batavia tidak saja sibuk dengan berbagai tugas, melainkan juga sesak dan pengapnya udara yang berasal dari muara Ciliwung tidak memberikan kenyamanan. Mereka memerlukan suatu tempat untuk peristirahatan. Pilihan jatuh ke daerah di wilayah Kampung Baru, dengan alasan tidak begitu jauh dari Batavia sebagai pusat pemerintahan dan merupakan "daerah antara" sehingga bisa dijadikan tempat persinggahan dan peristirahatan apabila gubernur jenderal melakukan inspeksi ke Cianjur, Sukabumi dan wilayah Priangan lainnya. Pertimbangan kedua adalah potensi yang dimiliki daerah itu; selain tanahnya yang subur, juga air yang jernih, situasi yang tenang, panorama alam yang indah, dan hawa yang sejuk karena terletak di kaki Gunung Gede dan Gunung Salak, pada ketinggian 265 m di atas permukaan air Laut.

Menurut van de Wall, rencana pembuatan tempat itu terinspirasi dari suatu model yang sedang trend di Eropa pada masa itu, khususnya dari Frederik de Groote, raja Prusia pada tahun 1740. Ketika itu de Groote membuat tempat yang indah dan menyenangkan dengan bangunan tamannya di Potsdam, dimana ia dapat beristirahat setelah melakukan berbagai kegiatan pemerintahan yang sibuk dan melelahkan. Raja, yang memiliki bakat seni serta menaruh perhatian pada sastra Perancis dan para senimannya, memberi nama pada tempat peristirahatan itu Sans-sauci, sebuah kata Perancis yang berarti tanpa urusan.

Villa Buitenzorg terus berkembang dengan pesat baik dari segi fisik maupun fungsinya mengiringi setiap pergantian gubernur jenderal. Kalau pada masa-masa sebelumnya villa itu lebih berfungsi sebagian tempat peristirahatan, pada masa Daendels, setelah direnovasi dijadikan istana resmi gubernur jenderal, meskipun sebelumnya ia juga telah memindahkan istana dari Batavia ke Rijswijk (Weltevreden). Di tempat inilah sebagian besar waktu gubernur jenderal dihabiskan, di sini pula perundingan-perundingan dengan Dewan Hindia Belanda dilangsungkan. Pada masa berikutnya 1888, gedung Algemeene Secretarie (Sekretariat Umum) dipindahan dari Batavia ke Buitenzorg.

Dalam perjalanan waktu, dari segi fisik, gedung yang didirikan oleh van Imhoff 1745 itu diperluas oleh Daendels pada tahun 1809, dan dibangun kembali oleh Van der Capellen pada tahun 1819. Dari segi fungsinya, bangunan yang semula hanya sebagai villa, tempat pusat kedudukan dan kediaman resmi Gubernur Jenderal Daendels pada tahun 1808. Keberadaan Buitenzorg selanjutnya banyak berpengaruh terhadap proses perkembangan fisik kota pada masa-masa berikutnya. Beberapa hal penting yang berkaitan dengan perubahan fungsi kota, antara lain:

1. Penetapan fungsi kota Bogor sebagai kota pusat administrasi dan pemerintahan Hindia Belanda, terutama sejak dibangunnya gedung Algemeene Secretarie sebagai kantor pusat pemerintahan umum.

2. Penetapan Kota Bogor sebagai pusat penelitian tanaman tropis dan pusat kegiatan perkebunan untuk wilayah Sukabumi, Jasinga, Semplak, Depok, dan Cianjur, terutama setelah dibuatnya Kebun Raya (Plantentuin) dan lembaga pendukungnya.

3. Seiring dengan prinsip Buitenzorg dan sesuai dengan fungsi Kota Bogor sebagai pusat pemerintahan, ditetapkan pola fisik perumahan di wilayah kota yang harus dikembangkan sebagai Residenrie-Iuxe.

4. Mulai dibuka jalur hubungan kereta api Batavia-Buitenzorg pada tahun 1873, yang dapat mempengaruhi mobilitas sosial dan perekonomian kota.