BUDAK BELIAN

Orang yang dipekerjakan dan bisa diperjualbelikan. Di Pulau Jawa perbudakan sudah lazim sejak lama. Budak diambil dari tawanan perang serta orang berhutang atau dibeli dari luar pulau. Budak belian yang didatangkan ke kota Batavia berasal dari Bali, Makassar, Nias, Toraja, Sumba, Timor, Manggarai (Flores), Irian Jaya (Papua), Banda dan beberapa pulau Maluku lainnya. Pada tahun 1622 Kapten W.Y Bontekoe ikut ekpedisi yang menangkap ribuan orang di Tiongkok Selatan untuk dipekerjakan di Batavia.

Harga budak belian mula-mula ditentukan oleh umur dan tenaga saja. Pada akhir abad ke-18 harga beli seorang perempuan muda dua sampai tiga kali lebih tinggi daripada harga beli laki-laki, hal ini disebabkan bertambahnya imigran laki-laki Tionghoa yang membutuhkan bini. Pria Eropa dan kalangan atas Kompeni juga lazim mengambil perempuan Bali sebagai gundik. Kehidupan budak-belian seringkali sangat berat. Mereka disiksa dengan kejam, kalau bersalah sedikit saja, dan hampir tidak ada hukum yang melindungi orang-orang malang ini. Terkadang budak-budak tua dibebaskan, supaya jangan perlu memberi makan kepada mereka. Perlakuan seperti ini menyebabkan banyak budak melarikan diri pada abad ke17 dan membentuk gerombolan-gerombolan di daerah Karawang.