Buaya, Roti

Roti yang dipakai dalam seserahan upacara pernikahan adat Betawi berupa sepasang roti buaya. Bagi orang Betawi, merupakan penghormatan atas kesaktian buaya, yang diartikan bukan dalam wujud fisik tetapi siluman yang dipuja. Dengan persembahan sepasang rori buaya maka dianggap perkawinan itu mendapat perlindungan dari kekuatan-kekuatan gaib.

Sepasang roti buaya adalah persembahan mempelai pria kepada mempelai wanita, tidak boleh dimakan dan hanya dipajang saja di atas meja, kadang-kadang ditempelkan di dinding dekat pelaminan. Buaya putih adalah konsep dunia mitos Betawi, merupakan hewan mistis penunggu sungai yang dianggap keramat. Sepasang roti buaya mensimbolkan kekuatan spiritual yang melindungi pasangan yang menikah itu.

Masuknya buaya (putih) dalam dunia mitos Betawi, merupakan pengaruh yang kuat dari kebudayaan orang Dayak dan Melayu Kalimantan Barat, yang diyakini oleh Prof. Nothofer telah hijrah ke Jakarta paling sedikit sejak abad ke-10 M, mereka inilah yang kemudian menjadi, komponen utama yang menurunkan orang Betawi. Pengembangan konsep ini adalah orang Betawi tidak mensucikan buaya sebagai hewan ma'ujud, tetapi yang dihormati adalah buaya siluman yang warnanya putih.