Bouwploeg, Gedung

Gedung Boplo akronim untuk Blowpoeg, berasal dari nama perusahaan yang didirikan oleh arsitek Moojen guna mengembangkan wilayah Nieuw-Gondangdia pada tahun 1912. Gedung perkantoran ini mungkin sekali dirancang oleh Moojen sendiri dan dibangun oleh N V de Bouwploeg dalam gaya peralihan dari historisisme kepada rasionalisme. Denah dasar gedung ini menyerupai salib Yunani dengan keempat baloknya sama panjangnya. Menara yang persegi empat itu agak pendek. Tiga tingkatnya, dikelilingi empat sayap yang hanya bertingkat dua. Penyatuan unit-unit ini menciptakan kesan kompak dan masif. Dari luar Boplo kurang berkesan sebagai gedung kantor dan lebih menyerupai gedung untuk keperluan kebudayaan, karena desainnya agak manis.

Ruang tengah memakai seluruh tempat di bawah kubah sentral setinggi tiga tingkat. Sampai kurang lebih enam tahun yang lalu ruang sentral masih diisi dengan tangga lebar kantor di tingkat dua. Bekas ruang-ruang kerja berlangit-langit tinggi dan menerima cahaya banyak lewat jendela besar. Hal ini penting untuk para arsitek yang bekerja di dalamnya. Ruang tengah yang tinggi menjamin sirkulasi udara yang baik. Dan jendela lewat ruang kantor udara panas bisa naik dan keluar melalui jendela-jendela di bawah kubah atap. Bagian atas jendela-jendela yang setengah melengkung diisi kaca patri yang indah.

Gedung Boplo selama tahun 1912-1925 digunakan N V Bouwploeg, yang pailit sejak Moojen meninggalkannya (1918). Sesudahnya antara lain dipakai oleh Proviciale Waterstaati dan sebagai gedung kantor pos pembantu, lalu oleh Angkatan Laut Jepang sewaktu Perang Dunia II. Sesudahnya gedung ini dimanfaatkan oleh Staatsporweg (jawatan kereta api); dinas perumahan (1957-1964); kantor sekretariat DPRD-GR dan MPRS (1964-1970) dan terakhir oleh Kantor Urusan Agama. Setelah itu dipakai sebagai masjid, namun tetap menjadi milik Pemda DKI. Sejak tahun 1971 termasuk gedung yang dilindungi undang-undang. Gedung Boplo merupakan contoh terbaik suatu bangunan dapat diadaptasikan untuk fungsi yang berbeda-beda. Hal ini sangat penting untuk usaha pelestarian melalui revitalisasi: yaitu mengisi gedung lama dengan fungsi baru yang cocok.