Bogor, Istana

Disebut juga Istana Buitenzorg, yang pada awalnya adalah sebuah rumah mewah yang dibangun oleh von Imhoff pada tahun 1745 menurut model Istana Blenheim, tempat kediaman Duke of Marlborough dekat Oxford (Inggris). Setelah habis dilalap api, istana kedua dibangun oleh Daendels dan Raffies. Gedung kedua inipun hancur akibat gempa bumi pada tahun 1834. Istana Bogor merupakan salah satu istana di Indonesia yang mempunyai aspek historis, kebudayaan, dan fauna yang menonjol.

Dahulu Istana Bogar bernama Buitenzorg atau [removed][removed] San Souci, merupakan sebuah tempat pesanggrahan dari Gubernur Jenderal GW Baron van Imhoff yang luas. Halamannya mencapai 28,4 hektar dan dengan luas bangunan 14. 892 meter persegi. Dibangun pada bulan Agustus 1744 dan berbentuk tingkat tiga. Namun pada tahun 1834 beberapa bagian dari istana itu roboh dan hancur, akibat adanya gempa yang melanda daerah Bagor dan sekitarnya karena meletusnya Gunung Salak.

Pada tahun 1850, Istana Bogor dibangun lagi, tetapi tidak bertingkat karena disesuaikan dengan situasi daerah yang sering terjadi gempa itu. Pada tahun 1870, istana Bogor dijadikan tempat kediaman resmi Gubernur Jenderal Belanda. Selama masa Gubernur Jenderal Belanda maupun Inggris (Daendels, van der Cappelen dan Sir Thomas Stamford Raffles), bentuk Istana Bogor telah mengalami berbagai perubahan.

Istana Bogor dengan halaman seluas 24 hektar mempunyai tanaman yang hampir sama dengan yang ada di Kebun Raya, sebab pada awalnya menyatu. Istana Bogor dijaga oleh Tim keamanan yang terdiri dari Pasukan Pengawal Presiden dan merupakan istana Kenegaraan yang menyimpan koleksi pemerintahan dari masa Presiden Soekarno hingga kini. Ketika Belanda kembali ke Indonesia pada tahun 1949, semua barang-barang yang ada di istana hancur, hanya ada satu-satunya benda yang tertinggal yaitu kaca seribu yang berasal dari Belanda. Sejak tahun 1850, kaca seribu berada di antara Ruang Garuda dan Ruang Teratai, Bangunan Induk. Barang-barang lainnya yang ada kemudian berasal dari masa pemerintahan Indonesia.

Keistimewaan Istana Bogor sebagai salah satu tempat dari kegiatan kenegaraan di masa Presiden Soekarno, mempunyai beberapa catatan peristiwa penting bersejarah. Antara lain, tahun 1954 berfungsi sebagai tempat persiapan Konferensi Asia Afrika yang diprakarsai oleh India, Pakistan, Binna, Srilangka dan Indonesia, dan pada II Maret 1966 sebagai tempat lahirnya Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret). Istana Bogor dalam pengalaman sejarahnya sebagai Istana Kepresidenan di masa Presiden Soekarno dan Suharto telah dikunjungi dan ditempati selama beberapa waktu oleh Kepala Negara atau Pemimpin pemerintahan negara sahabat Indonesia. Tamu negara yang pernah singgah adalah Jihan Sadat, isteri almarhum Anwar Sadat, Presiden Mesir, Elizabeth II Ratu Inggris, Pangeran Bernard, suami Ratu Yuliana dari Belanda dan Malcolm Fraser Perdana Menteri Australia. Adapun yang pernah menginap di masa Presiden Soekarno adalah Presiden Tito dari Yugoslavia, Perdana Menteri Rusia Anantas Mikoyan, Jaksa Agung Amerika Robert Kennedy, Perdana Menteri Burma, U Nu, Pangeran Akihito dari Jepang dan Woroshilof dari Rusia.

Istana Bogor juga mempunyai keunikan lain yang tidak dipunyai oleh istana kepresidenan lain. Istana ini mempunyai koleksi 136 buah keramik, diantaranya berasal dari dinasti Ming di Tiongkok, 219 buah lukisan dari pelukis Basuki Abdullah (terbanyak), Ida Bagus Made, Dullah, Sudjojono, Sudjono Abdullah, Hendra dan pelukis luar negeri seperti Le Majeur (Belgia, suami Ni Polok dari Bali), Makooski (Rusia), Dezence (Belanda) serta pelukis dari manca negara lainnya.

Istana Bogor mempunyai bangunan induk dengan sayap kiri dan kanan. Bangunan induk Istana Bogor terdiri dari kantor pribadi Kepala Negara, perpustakaan, ruang makan, ruang sidang menteri-menteri dan ruang pemutaran film, ruang Garuda merupakan tempat upacara resmi, ruang Teratai, sayap tempat penerimaan tamu-tamu negara. Gedung sayap kanan dan kiri digunakan ruang tidur tamu-tamu agung. Tahun 1964 dibangun ruang khusus untuk istirahat Presiden Soekarno dan keluarganya, yang dikenal dengan nama "Dyah Bayurini". Di halaman istana, dekat kolam terdapat patung wanita sedang duduk, diberi nama Endang Teratai, selain itu juga si Denok. Patung tersebut dibuat oleh Trubus, pemahat dari Yogyakarta. Di dekat Kebun Raya, terdapat patung yang tinggi dengan jari tangan menunjukkan huruf V, merupakan "copyright" (dari Swedia) yang dikenal dengan "The Hand of God". Keunikan lain adanya hewan peliharaan kijang yang berbintik-bintik putih. Kijang-kijang tersebut berasal dari India (1811) sebanyak II pasang, kemudian berkembang menjadi sekitar lebih dari 1.000 ekor. Kijang-kijang itu juga disebar ke berbagai kebun binatang di Indonesia. Kijang ini sulit ditangkap, bahkan bila didekati akan lari. Konon bila ada yang terkena tangan manusia akan mati, sebab akan dijauhi yang lain. Bahkan bila anak kijang yang ditangkap, induknya tidak lagi mau menyusui. Tidak ada makanan khusus yang disediakan bagi kijang-kijang tersebut, mereka dilepas bebas di halaman istana, makan rumput yang ada dan minum di kolam dan selokan-selokan kecil.