BING SLAMET

Dilahirkan di Cilegon (Banten), 27 September 1927, meninggal di Jakarta 17 Desember 1974. Lahir dari keluarga R. Achmad, seorang mantri pasar. Nama pemberian ayahnya cuma slamet saja. Tambahan nama "Bing" di depan Slamet, hingga menjadi Bing Slamet diberikan oleh salah seorang sahabatnya, Basuki Zaelani, seorang pemain film, ketika pada tahun 1948 Bing menyanyi sekaligus melawak di Yogyakarta.

Mulai menyanyi pada usia 12 tahun (1939) pada orkes "Terang Boelan" pimpinan Husin Kasimun. Dari sini ia kemudian memasuki group sandiwara "Pantja Warna" di tahun 1944, lalu bergabung dengan Barisan Penghibur Devisi VI Brawidjaja, RRI Malang, RRI Yogyakarta, Radio Perjuangan Jawa Barat, Angkatan Laut Surabaya dan Jakarta.

Pada 29 Juli 1953 memenangkan lomba lawak yang diadakan di Gedung Kesenian Jakarta oleh Majalah "Ria". Julukan "Bintang Pelawak" ini membuat namanya semakin harum dan terkenal. Sebelum itu, ia pernah membentuk group lawak bernama Trio "Los Gilos" bersama Tjepot (Hardjodipuro) dan Udel (Drs. Poernomo). Bakat melawaknya, seperti halnya menyanyi, sudah terlihat semenjak masih kecil. Slamet kecil kalau dihukum oleh gurunya di depan kelas selalu menggerakkan alis, mengedipkan sebelah mata atau kadang-kadang mengeryitkan keningnya. Ada saja ulahnya yang membuat teman-teman sekelasnya tertawa dan gurunya sulit untuk marah. Bakat melawak, menyanyi ditambah lagi kepintarannya bermain gitar, akhirnya menghantarkan namanya pada puncak ketenaran. Tahun 1955 ia merebut gelar Juara Bintang Radio untuk jenis Hiburan. Ia merebut simpati penggemarnya lewat alunan suaranya di RRI Studio Jakarta, lewat lawakan dan panggung hiburan serta piringan hitam sekaligus.

Setahun setelah terpilih sebagai Bintang Radio, tanggal 23 April 1956, ia menikah dengan R. Ratna Kamala Furi. Dari perkawinannya itu ia dianugerahi delapan anak, dua perempuan dan enam lelaki. Tiga dari delapan putra-putrinya ini kemudian dikenal sebagai artis mengikuti jejaknya. Mereka ialah Uci (Ratna Lusiana), Adi (Ferdiansyah) dan Iyut (Ratna Varius). Tahun 1950 ia memulai karir di film sebagai figuran dalam film Menanti Kasih. Kemudian film bersama Ratna Ruthinah, Ismail Saleh dan Fifi Young. Film-flimnya yang lain diantaranya Sepanjang Malioboro, Solo Di Waktu Malam, Raja Karet Dari Singapura, Tiga Buronan, Hari Libur, dan Bing Slamet Tukang Becak..

Bing juga dikenal sebagai pencipta lagu, meski tidak produktif namun karyanya dikenal halus dan cermat pada irama, melodinya dan pemilihan temanya. Lagu Cemas adalah salah satu lagu ciptaannya bersama Dick Abell. Lagu-lagunya yang lain adalah Murai Kasih, Hanya Semalam, Ayu Kesuma, Risau, Padamu, Belaian Sayang dan sebagainya. Sebuah lagunya Nurlela adalah sebuah lagu yang sangat populer pada masanya. Ketika dunia musik sampai kepada perkembangan alat elektronik yang semakin maju, Bing bersama Idris Sardi, Enteng Tanamal, Benny Mustafa, Eddy Tulis, dan Kiboud Maulana membentuk band Eka Sapta. Sebagai pelawak, ia pernah tergabung dengan Trio SAE (Bing Slamet, Atmonadi dan Eddy Sud), untuk kemudian membentuk Kwartet KITA yang beralih nama menjadi Kwartet Jaya (Bing, Ateng, Iskak dan Eddy Sud) hingga akhir hayatnya.