BINA GRAHA

Gedung atau bangunan tempat Presiden RI berkantor, yang berlokasi di Rijwijk (Jl. Veteran). Di sebuah tanah luas yang membentang sampai ke Konningsplein Utara (Jl. Medan Merdeka Utara). Sebelumnya gedung ini digunakan sebagai Hotel der Nederlanden. Bina Graha merupakan bagian tertua gedung di Rijswijk. Gedung yang bergaya Eropa ini adalah milik seorang tuan tanah Belanda, Pieter Tency (meninggal 1794). Rumah ini kemudian menjadi Hotel Der Nederlander dan pada masa kemerdekaan namanya diubah menjadi Hotel Dharma Nirmala. Bung Karno kemudian menjadikan tempat ini sebagai Markas Cakrabirawa, pasukan khusus pengaman kepresidenan. Kemudian oleh Soeharto dijadikan sebagai Gedung Bina Graha hingga sekarang.

Pada masa pemerintahan Inggris, gedung ini dikenal dengan sebutan Raffles House. Di belakangnya terdapat gedung yang luas (kini gedung DPA), sampai ke Koningsplein yang sangat luas. Di belakang dan agak ke samping dari gedung itu terdapat sebuah paviliun yang menghadap ke Monas milik J.A. Braam, seorang Residen Surakarta yang kaya raya karena praktek korupsi. Braam menjadikannya sebagai rumah peristirahatan luar kota dalam gaya 'klasisisme". Selama masa pendudukan Inggris pavilyun itu dihuni oleh Komisaris Sipil atas wilayah pesisir utara Jawa.

Paviliun ini kemudian dibeli oleh pemerintah Hindia Belanda (1821), dan dijadikan sebagai kediaman resmi dari gubernur jenderal Hindia Belanda yang kemudian dikenal sebagai Istana Negara. Pembangunan Istana Negara ini dilakukan karena istana Gubernur Jenderal Daendels di Waterlooplein (Lapangan Bateng) belum selesai (kini Departemen Keuangan). Raffles sendiri selama 4 tahun di Batavia, sebelum membangun Singapura (1816), hampir tidak pernah tinggal di Istana Negara. Ia lebih. memilih tinggal di Istana Buitenzarg dan Istana Cipanas yang dibangun oleh Gubernur Jenderal Daendels.