Bikin Rume

Tradisi Betawi dalam membangun rumah, di mana ada satu syarat yakni perhitungan yang berporos kepada alam ghaib. Perhitungan tersebut dilakukan oleh seorang kiai yang mengetahui ilmu falak. Hal yang dinasehatkan oleh kiai tersebut berupa perhitungan mengenai lahan tempat pembangunan, arah rumah dan mulainya pembangunan. Arah rumah dihubungkan dengan keberadaan naga besar.

Sebelum mendirikan rumah dilakukan Upacara Pendirian Rumah. Ritual tersebut masih berlaku dalam masyarakat Betawi (walupun hanya sebagian). Setelah persiapan pelaksanaan membuat rumah dianggap matang kemudian dilakukan beberapa hal. Pertama adalah menentukan arah bangunan yang akan didirikan dengan menghitung dimana "Naga Besar" berada. Jika berada di timur maka rumah tidak boleh menghadap ke arah tersebut. Seandainya pemilik rumah tetap berkeinginan rumahnya menghadap ke timur maka harus menunggu sampai Naga Besar pindah ke arah lain. Menurut perhitungan, Naga Besar pindah tempat setiap 3 bulan sekali. Apabila pantangan ini tidak dipenuhi maka pemilik rumah akan mendapat kecelakaan atau hartanya akan habis ditelan Naga Besar. Selain itu juga ada hari pantangan untuk mendirikan rumah, yaitu pada hari paing karena akan susah rejeki dan hari wage karena rumah "tidak bakal ketungguin" , artinya si pemilik akan keburu meninggal sebelum sempat menghuni rumah.

Beberapa kebiasaan saat mendirikan rumah adalah sebagai berikut: ketika meratakan tanah untuk tempat bangunan (baturan) diatasnya diletakkan lima bata garam. Empat bata garam diletakkan pada keempat pojok tanah tempat rumah akan dirikan dan satu bata di tengah-tengah. Dilakukan supaya bangunan bebas dari makhluk halus, khususnya selama mendirikan rumah. Kemudian saat memasang umpak batu (batu kosta) sebagai alas tiang guru diletakkan uang ringgit, perak, atau gobangan. Maksudnya agar si pemilik rumah hidup tentram dan rejekinya lancar. Dan pada waktu pemasangan kaso diadakan selamatan membuat bubur merah putih. Sebagian bubur tersebut ditempatkan dalam daun (diplengsong) yang kemudian diletakkan di ujung atas setiap tiang guru. Ritual ini dimaksudkan supaya "orang atas" atau makhluk halus tidak menganggu rumah.

Setelah rumah selesai diadakan selamatan rumah dengan menggunakan sesajen berupa nasi kuning, nasi putih, buah-buahan, beserta segala lauk pauk hidangan dan kue. Kemudian bersama-sama dengan tetangga dan sanak keluarga terutama yang ikut kerja "sambatan" berkumpul dengan membaca doa selamat atas kesuksesannya dalam mendirikan rumah. Setelah semua dilaksanakan untuk mendapat keselamatan si penghuni bisa mulai tinggal di rumah yang bersangkutan.