Biennale Seni Lukis Jakarta

Pameran seni rupa yang berlangsung dua tahun sekali, dengan melibatkan para seniman lukis potensial dari seluruh Indonesia. Pada tahun 1972, sebagai awal kegiatan, dilangsungkan Pameran Besar Seni Rupa Indonesia. Pada saat itu belum terpikir suatu pameran yang sifatnya kompetitif dengan pemberian hadiah bagi karya yang dipandang terbaik. Pada Biennale I, selaku pengganti Pameran Besar Seni Rupa Indonesia, mulai dipilih karya seni yang dianggap pantas mendapat hadiah dari Dewan Kesenian Jakarta. Pemberian hadiah ini sempat menimbulkan demonstrasi seniman muda, karena Dewan Kesenian dituduh melakukan pemilihan sepihak terhadap karya-karya yang bergaya dekoratif. Ketika itu, tujuh orang juri yang ditunjuk DKJ yaitu Kusnadi, Affandi, Popo Iskandar, Sudjoko, Umar Kayam, Fajar Sidik dan Alex Papadimitriou, memutuskan bahwa para pemenangnya adalah Irsam, Widayat, Abas Alibasyah, Aming Prayitno, dan A.D. Pirous. Para seniman yang berdemonstrasi dan mengirim karangan bunga berwarna hitam sebagai lambang kematian seni lukis Indonesia, dipelopori beberapa mahasiswa ASRI dan ITB, yang prihatin terhadap pertumbuhan seni rupa secara obyektif. Peristiwa itu kemudian disebut Desember Hitam 1974.

Namun peristiwa tersebut telah mendorong para seniman muda, aktivis Desember Hitam 1974, mencetuskan suatu faham atau gerakan baru dalam tubuh seni rupa modern di Indonesia. Pada tahun 1975, Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia berdiri dan untuk pertama kalinya berpameran di PKJ-TIM. Ketika itu tercatat, antara lain seniman-seniman muda seperti Muryoto Hartoyo, Jim Supangkat, Hardi, Nanik Mirna, Siti Adiati, Harsono, Reda Sorana, Bonyong Muniardi, dan Ronald Manulang yang mengekspresikan seni rupa yang sama sekali lain dari ciri-ciri konvensional dua dimensi. Ditinjau dari segi pembaharuan, kelahiran Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia pada tahun 1975 tersebut merupakan kemajuan berarti. Secara filofofis konseptual, telah mencetuskan inovasi dalam segi konsepsi fenomenologis, sejak PERSAGI mencanangkan gerakan nasionalis dalam seni lukis Indonesia.

Biennale Dewan Kesenian Jakarta selanjutnya diselenggarakan setiap dua tahun sekali, yaitu pada tahun 1976, 1978, 1980, 1982,1984,1987,1989,1990 dan 1996. Setelah para peserta diteliti lebih dulu oleh sebuah panitia yang dibentuk oleh Komite Seni Rupa, mereka langsung dipilih oleh Dewan Kesenian Jakarta. Juri ditentukan melalui sidang komite dan kemudian disahkan oleh sidang paripurna Dewan Kesenian Jakarta. Untuk mengatasi ketidakpuasan para seniman muda, Dewan Kesenian Jakarta juga memasukkan Pameran Karya-karya Seniman Muda Seluruh Indonesia ke dalam programnya. Pameran ini dimulai pada tahun 1976, dan seperti penyelenggaraan Biennale, pameran ini juga diselenggarakan setiap dua tahun sekali. Namun demikian, program tersebut hanya bisa diselenggarakan lima kali, yaitu pada tahun-tahun 1976, 1978, 1980, 1982, 1984. Pada tahun berikutnya, pameran tersebut dihapuskan lagi karena kesulitan penentuan kriteria mengenai apa yang disebut seniman muda atau tua, seniman senior dan junior.

Dari sekian Biennale yang diselenggarakan di Pusat Kesenian Jakarta-Taman Ismail Marzuki, telah lahir tokoh-tokoh seni lukis generasi baru menjadi terkemuka karena kemandiriannya, gaya seninya, serta citra artistiknya. Mereka adalah antara lain Irsam, Widayat, Abas Alibasyah, Aming Prayitno, A.D. Pirous, Lian Sahar, Achmad Sadali, Zaini, Oesman Effendi, Srihadi Sudarsono, Nunung WS, Nuzurlis Koto, Warsito, Rudi Isbandi, Nyoman Gunarsa, Haryadi Suadi, T. Sutanto, Dede Eri Supria, Amang Rahman, Boyke Aditya Krisna, Ivan Sagito dan Dwijo Sukatmo.