BIDARACINA

Kawasan yang dikenal dengan nama Bidaracina, karena pada waktu terjadi pemberontakan orang-orang Cina di Batavia dan sekitarnya terhadap Kompeni pada tahun 1740, ribuan dari mereka terbunuh mati, bermandi darah. Diantaranya di tempat yang kemudian disebut Bidaracina. Perkiraan lainnya, asal nama kawasan tersebut dari bidara yang ditanam oleh orang Cina di situ. Bidara atau bahasa ilmiahnya, Zizyphus jujuba Lam, famili Rhanneae, adalah pohon yang kayu-nya cukup baik untuk bahan bangunan. Akar dan kulitnya yang rasanya pahit, mengandung obat penyembuh beberapa macam penyakit, termasuk sesak nafas. Di ketiak dahannya biasa timbul gumpalan getah, namun buahnya dapat dimakan.

Dalam kaitannya dengan perkiraan tersebut, menurut De Haan, yaitu keterangan tentang adanya seorang Cina yang mengikat kontrak yang aktanya dibuat Notaris Reguleth tanggal 9 Oktober 1684, untuk menanami kawasan sekitar benteng Noordwijk dengan pohon buah-buahan, termasuk pohon bidara Walaupun di luar kontrak tersebut, mungkin saja seorang Cina menanam bidara di tempat yang kini dikenal dengan sebutan Bidaracina itu. Bidaracina dewasa ini menjadi nama sebuah kelurahan, Kelurahan Bidaracina, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur.