BETAWI TENGAH

Sebutan untuk satu bagian wilayah budaya Betawi (selain Betawi Pinggiran) dan juga sub dialek yang disebut Betawi Kota. Yang termasuk Betawi Tengah adalah kawasan wilayah yang pada zaman akhir pemerintahan jajahan Belanda termasuk wilayah Gemeente Batavia, kecuali beberapa tempat seperti Tanjung Priok dan sekitarnya. Sedangkan daerah-daerah di luar kawasan tersebut, baik yang termasuk wilayah DKI Jakarta apalagi daerah-daerah di sekitarnya, merupakan wilayah Betawi Pinggiran yang pada masa-masa yang lalu disebut Betawi Ora. 

Masyarakat Betawi Tengah yang umumnya lebih maju dari yang di pingggiran, lebih banyak menggemari cerita-cerita bernafaskan agama Islam yang mendapat pengaruh budaya Timur Tengah seperti cerita-cerita dari Seribu Satu Malam yang terkenal itu. Di wilayah budaya Betawi Tengah tampak keseniannya banyak menyerap seni budaya Melayu, sebagaimana terlihat pada musik dan tari Samrah. Hal ini antara lain disebabkan karena setelah adanya Konvensi London pada tahun 1824 dan Traktat Sumatera tahun 1871, banyak orang-orang Riau kepulauan dari daratan Sumatera Timur hijrah ke Batavia, sebagai pedagang. Disamping itu masyarakatnya merupakan pendukung kesenian yang bernafaskan Islam, seperti berbagai macam rebana, gambus dan kasidahan. Dalam hal seni budaya, masyarakat Betawi Tengah tampaknya masih banyak yang tidak dapat menerima seni budaya Betawi Pinggiran sebagai miliknya.

Adapun sub dialek Betawi Tengah atau Kota menurut garis besarnya, terdapat vokal akhir /e/pada beberapa kata yang dalam bahasa Indonesia berupa / a/ atau / ah/. Di Betawi Tengah pun terdapat beberapa subsub dialek. Betawi tengah merupakan subdialek Betawi yang paling populer seperti gue-kenape. Adapun sub dialek Betawi Tengah atau Kota menurut garis besarnya, terdapat vokal akhir / e/pada beberapa kata yang dalam bahasa Indonesia berupa / a/ atau /ah/. Di Betawi Tengah pun terdapat beberapa sub-sub dialek. Betawi Tengah merupakan sub-dialek Betawi yang paling populer seperti gue-kenape.