Benteng

Bangunan tempat berlindung atau bertahan dan serangan musuh, baik manusia maupun hewan. Bangunan itu dapat berupa dinding (satu sisi, dua sisi, tiga sisi, empat sisi atau lebih) dan dapat pula berupa bangunan yang kompleks. Dalam bahasa Belanda dan Inggris, benteng disebut fort atau fortifications. Selain itu dikenal juga citadel, castle, dan bunker. Citadel adalah benteng besar yang menjadi bagian dari fortifikasi (perbentengan) suatu kota untuk menguasai keadaan. Castle (Inggris), Casteel (Belanda) atau Chateaux (Perancis) berasal dari bahasa Latin yaitu Castellum, mengacu kepada suatu wilayah atau tempat yang bangunan-bangunannya dikelilingi benteng, sedangkan bungker adalah benteng yang ditanam atau disembunyikan dalam tanah dan mulai dikenal sejak Perang Dunia II. Ada dugaan bahwa Castle tertua dibangun dari kayu, ditempatkan di atas bukit atau karang sehingga sulit untuk diserang. Juga di tanah datar castle dibuat di atas gundukan tanah yang disebut motte, dikelilingi parit dan di atas motte ini dibangun pagar kayu yang dilengkapi dengan menara. Di samping itu, ada juga castle yang dibangun di lapangan terbuka (bailey). Seperti halnya motte, bailey pun dikelilingi pagar dan parit, di dalamnya ada tempat tinggal, dapur, gudang, bengkel, dan lain sebagainya.

Dari berbagai sumber informasi, diketahui bahwa di ada atau pernah ada sejumlah benteng; bahkan kota Batavia yang dibangun oleh orang-orang Belanda pada tahun 1619 sesungguhnya bermula dari sebuah benteng yaitu Fort Jacatra. Orang-orang Belanda (VOC) pertama kali mendirikan kantor dagangnya (loji) di Jayakarta pada tahun 1611, yakni di perkampungan orang-orang Cina di daerah pantai, sesuai dengan isi perjanjian yang telah ditandatangani oleh Jaques L'Hermit dengan Pangeran Jayakarta, pada tanggal 10-13 Nopember 1610. Bangunan yang diberi nama Nasau itu berukuran 40 x 14,4 m, dibuat dari batu untuk melindungi barang-barang dagangan mereka dari api dan mencegah kemungkinan adanya serangan dari orang-orang Jakarta. Kecuali sebagai gudang, bangunan ini juga berfungsi sebagai tempat tinggal yang dikelilingi pagar dari bambu. Enam tahun kemudian (1617) dibangun gudang yang kedua di sebelah Nasau sejajar dengan Ciliwung, yang diberi nama Maurit. Kedua bangunan ini oleh Jp. Coen diperkuat dengan membangun tembok-tembok pertahanan di sebelah utara dan timur, sehingga menjadi sebuah benteng pertahanan yang di kemudian hari diberi nama benteng Jakarta (Fort Jacatra). Bangunan inilah yang kemudian menjadi embrio Kota Batavia (Jakarta).

Sebutan "Jakarta sebagai kota benteng" memberikan gambaran bahwa pembangunan dan penempatan bangunan benteng di Batavia erat kaitannya dengan perkembangan fisik (morfologi) kota. Karena tujuan pembangunan benteng adalah untuk melindungi kota serta penghuninya dari serangan musuh (terutama orang-orang pribumi) dan melindungi aset Kompeni di daerah ommelanden terhadap para perusuh dan perampok di sekitar kota. Data terakhir yang disampaikan oleh H.A. Treu dan A.F Lancer menyebutkan 37 buah benteng dengan rincian 4 buah di Kepulauan Seribu dan sisanya 33 buah di daratan.

Setelah Jayakarta jatuh ke tangan Kompeni di bawah pimpinan JF. Coen dan berganti nama menjadi Batavia, ia mulai membangun kota dan juga benteng untuk menggantikan benteng lama (Fort Jacatra) yang sudah tidak mampu lagi menampung aktivitas dan kegiatan dagang VOC. Benteng baru itu diberi nama Kasteel Batavia, luasnya sekitar 9 kali benteng yang lama. Bentuknya tidak banyak berbeda dengan benteng lama (persegi), dinding barat berhimpitan dengan dinding timur benteng lama. Pada keempat sudutnya dibangun bastion yang diberi nama Diamant, Robijn, Saphier, dan Parrel. Pada peta tahun 1619 dan peta tahun 1622 nampak bahwa dua di antara bastion kasteel masih menjorok ke laut.

Perkembangan dan penempatan benteng di Jakarta sampai dengan penghujung abad ke-18 dapat diamati dari sejumlah peta. Pada peta tahun 1622 dan peta Swaying yang menggambarkan kurun waktu yang sama diperlihatkan kanaal-kanaal yang membujur maupun yang melintang. Penggalian kanaal dimaksudkan untuk mempertinggi permukaan tanah dan mengeringkan lahan yang berawa-rawa. Namun pada masa kemudian kanaal berfungsi juga sebagai sarana pengendali banjir, sarana transportasi dan sebagai sarana pertahanan kota. Pada peta Swaying, selain Fort Jacatra dan Kasteel Batavia, diperlihatkan juga tiga bangunan pas penjagaan (Redoute), yaitu pos penjagaan Brasser (Redoute Brasser) di sebelah selatan kota dekat Belokan Ciliwung, pos penjagaan Syahbandar berdekatan dengan rumah tol dan terakhir adalah pos penjagaan.

Pada bulan Januari 1807 Herman Willem Daendels diangkat sebagai Gubernur Jenderal untuk Aziatische Colonien en Bezettingen yang berkedudukan di Batavia (Jakarta). Selain itu Daendels ditugaskan juga untuk memperbaiki keadaan kesehatan kota Batavia, karena Kota Batavia yang tadinya dijuluki Ratu dari Timur (Koningen van Oosten), dalam abad ke-18 telah berubah menjadi kuburan orang Belanda (Graf der Hollander) karena banyak orang Belanda yang meninggal akibat buruknya kesehatan kota. Sehubungan dengan itu Daendels kemudian memutuskan untuk membongkar benteng kota dan memindahkan pusat pemerintahan agak ke selatan, yaitu Weltevreden. Pada tahun 1810 Daendels memerintahkan pembongkaran tembok keliling kota dan menghancurkan benteng (kasteel), sebagian batu-batunya dipergunakan untuk membangun bangunan di Weltevreden. Meskipun Batavia Lama sudah ditinggalkan sebagai pusat pemerintahan, para pedagang tetap tinggal di sana, bahkan dihuni kembali setelah orang-orang Eropa pindah ke selatan. Namun sejak itu tidak ada lagi pemisahan antara penduduk di dalam dan di luar benteng seperti sebelumnya.

Setelah pusat pemerintahan dipindahkan ke Weltevreden dan benteng kota serta kasteel dihancurkan, pertahanan kota diarahkan ke selatan. Pada peta persebaran benteng yang dibuat oleh Lancker terlihat bahwa di sebelah utara Koningsplein terdapat Benteng Rijswijk, Noordwijk, De Keten, Apenwacht, dan Citadel Prins Frederick Hendrik. Benteng yang terakhir ini (Prins Frederick Hendrik) dibangun pada tahun 1837 oleh Gubernur Jenderal Van den Bosch sebagai pusat pertahanan, dalam rencana khayal gubernur jenderal untuk membuat Weltevreden sebagai daerah pertahanan. Di tempat ini sekarang berdiri Masjid Istiqlal. Di sebelah selatan Waterloosplein, Daendels mendirikan kamp militer yang pada zaman penjajahan dikenal dengan atau sebagai langsi Batalion X. Sedangkan di sebelah selalan Weltevreden, pusat pertahanan dibangun di Meester Comelis (Jatinegara), di mana di situ dibangun sekolah artileri dan sebuah benteng (benteng Meester Cornelis) untuk menghadapi serangan Inggris.

Ketika Van den Bosch menjadi Gubernur Jenderal, pada tahun 1830 pernah direncanakan suatu garis pertahanan yang dikenal dengan Dejensiejlzjn van den Bosch, yang dahulunya merupakan parit bertanggul rendah menjulur dari suatu titik di masa sekarang ini berdiri Stasiun Senen. Dari situ menuju ke Bungur Besar, kemudian membelok ke barat melalui Krekot-Sawah Besar Gang Ketapang, lalu menuju ke selatan melalui Petojo sampai di sebelah barat Medan Merdeka. Kemudian Tanah Abang melalui Kebon Sirih, Jembatan Prapatan, terus Jembatan Kramat (Kramat Bunder sekarang). Garis pertahanan Van den Bosch itu kini telah menjadi jalan-jalan biasa seperti halnya kanaal-kanaal (grachten) di Batavia lama yang dewasa ini juga telah menjadi jalan-jalan biasa. Kalau kita perhatikan peta Lancker, lokasi benteng sebagian besar terdapat di pantai antara Sunda Kelapa, Ancol, dan Tanjung Priok. Di tempat ini sendiri ada sekitar 15 buah benteng yang belum dikenal dalam peta-peta sebelumnya, sehingga ada kemungkinan benteng itu dibangun setelah dibangunnya Tanjung Priok sebagai pelabuhan baru yang terletak di sekitar 8 km dari pelabuhan lama pada tahun 1877.

Secara umum pembangunan benteng di Batavia mengalami dua fase, yaitu benteng-benteng yang dibangun masa VOC dan benteng-benteng masa Hindia Belanda. Di samping itu terdapat beberapa benteng yang dibangun masa pendudukan Jepang, namun belum berhasil dilacak. Dari 21 benteng yang berhasil ditelusuri di Batavia dapat dikelompokkan menjadi lima.

1) Fort (benteng dalam pengertian yang sesungguhnya), antara lain Fort Jacatra, Kasteel Batavia, Benteng Kota Lama, Waterkasteel, Rijswijk, Noordwijk, Mesteer Cornelis, Grietenburg, dan Prins Frederick. Berdenah segi empat dan segitiga, bahkan bersudut lima (Vijfhoekig). Bastionpun ada yang bersegi lima (bastion sempurna), setengah bastion, dan bulat atau setengah lingkaran (ronddel).

2) Redoute (kubu), yaitu benteng berukuran kecil, sering disebut juga post atau schans, antara lain Post Ancol, Fort Jacatra II, Post Angke, Vzjjhoek, Sterreschan, dan Dieren. Denah segi empat, segi lima, dan satu diantaranya bersudut lima (Vijfhoekig). Bastion segi lima (bastion sempurna) dan setengah bastion, satu diantaranya dikelilingi pagar kayu di atas tembok.

3) Thorn atau Wachthuizen (menara pengintai atau pengawas), antara lain Wilgenburg dan Keeten. Denah segi empat dan segi lima, berlantai dua (satu tingkat) dan berlantai tiga (dua tingkat). 4) Baterrij, jumlahnya cukup banyak dan ditempatkan sepanjang pantai dan tepi Kali Ciliwung, sudah ada sejak masa Jayakarta, sebagaimana terlihat pada peta Ijzerman tahun 1618. Misalnya Baterrij Laut (Zee Baterrij) yang ditempatkan di sebelah Kali Ciliwung, kota bagian barat.

5) Bunker, benteng dalam tanah, kadang-kadang tersembunyi, antara lain Benteng Ancol. Pada umumnya benteng-benteng tersebut dikelilingi oleh parit, kanaal atau sungai karena parit atau kanaal merupakan sarana pelengkap dari bangunan pertahanan. 1928-1931 ia menjadi anggota Perhimpunan Indonesia (PI) dan duduk sebagai anggota Kongres Liga menentang Imperialisme dan Kapitalisme. Rumahnya dipakai tempat pertemuan anggota PI. Karena ia dokter yang bekerja pada pemerintah Hindia Belanda di Indonesia, maka pada tahun 1930 diancam untuk dipulangkan ke Indonesia karena membantu gerakan PI. Namun atas bantuan Prof. Flu tidak jadi dipulangkan dan ditunda sampai menyelesaikan gelar DR.

Pada waktu lulus dari STOVIA dengan gelar Indisch Arts, bekerja di kantor Inspeksi Semarang kemudian ditugaskan ke Banjarmasin (Borneo) selama 2 bulan untuk memberantas kolera. Tahun 1920-1921 mengikuti Ekspedisi Tjorah Brem-Brem di sungai Belangu (Tanjung Selor). Tahun 1921-1922 sebagai Bedrijfsarts di Pulau Laut. Tahun 1922-1925 ditugaskan di Civiel Genees Hulp di Samarinda. Tahun 1925-1928 sebagai dokter negeri Kraksan, kabupaten Jember.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Belanda. Selama 1931-1933 bekerja di CBZ (Rumah Sakit) Jakarta bagian penyakit dalam. Tahun 1932-1938 bekerja di Jawatan Pemberantasan Lepra Semarang. Tahun 1938-1941 menjadi dokter Karesidenan Banyumas. Tahun 1941-1945 menjadi Direktur CBZ Semarang. Pada tahun 1945 menjadi Kepala Jawatan Kesehatan Pusat, Jakarta kemudian menjadi Ketua Harian Palang Merah Indonesia Pusat (1945-1949). Tahun 1948-1951 beliau menjadi dokter partikelir praktek umum di Yogyakarta. setahun kemudian menjadi dokter partikelir di Jakarta.

Pada masa pendudukan Jepang, ia menjadi pimpinan Jawa Izi Hokokai (Perkumpulan Dokter Indonesia). Ketika menjelang proklamasi kemerdekaan, beliau menjadi anggota BPUPKI dan kemudian PPKI. Setelah proklamasi kemerdekaan RI, jadi anggota KNIP dan menjabat sebagai Menteri Kesehatan pada tahun 1946, membentuk Sarikat Buruh Kesehatan (SBK) dan menjadi Ketua Umum tahun 1948-1952. Akan tetapi sejak bulan Juli 1946-30 Juli 1948 ditahan karena dituduh ikut mengadakan makar untuk menggulingkan Kabinet Sjahrir. Selanjutnya tahun 1948 mendirikan Serikat Buruh Indonesia (Vaksentral GSBI).

Pada tahun 1953 bersama teman-temannya mendirikan Yayasan Rumah Sakit Jakarta. Tahun 1945-1956 menjadi anggota DPRS kemudian duduk dalam Dewan Nasional Kongres Rakyat dan angkatan Baru. Di Semarang mendirikan Yayasan Perguruan Tinggi Jayabaya. Sejak bulan Juni 1957 menjadi Ketua Badan Hubungan Kebudayaan Indonesia-Uni Soviet dan menjadi Ketua Pusat Pekan Ekonomi Indonesia. Tanggal 5 Agustus 1958-1965 menjadi wakil Ketua Partindo sejak itu akhirnya mendirikan Partindo sendiri dengan teman-temannya sealirannya. Tokoh pergerakan ini wafat di Jakarta, 31 Oktober 1972.