BENGKEL TEATER

Dapat disebut sebagai pelopor teater kontemporer Indonesia, karena dari kelompok inilah lahir sutradara dan kelompok teater yang lain. Hampir seluruh tokoh-tokoh teater Indonesia, secara langsung maupun tidak bersentuhan dengan Bengkel Teater. Didirikan tahun 1968 di Yogyakarta oleh WS Rendra sekembalinya dari studi di Amerika. Bengkel Teater muncul di tengah-tengah kelompok teater Yogyakarta dengan gaya dan metode baru, yaitu gaya dan metode improvisasi yang meminimalkan penggunaan kata. Gaya ini bukan saja baru, tetapi tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Pada akhir tahun 70-an, kelompok ini pindah di Jaka [removed][removed] rta dan sekarang memiliki padepokan di wilayah Cipayung, Depok.

Pada perkembangannya selalu dilakukan pembaharuan demi pembaharuan kelompok ini, baik dalam tema, gaya maupun konsep pertunjukan. Mulai dari mini kata hingga pamflet, dari musik hingga kostum dan dalam pengelolaan penonton dan bisnisnya. Arifin C.Noer, Putu Wijaya , Chaerul Umam, Ratna Sarumpaet, Azwar AN merupakan tempaan Bengkel Teater. Karya-karyanya merupakan kesaksian bagi zamannya, yang dipaparkan secara puitis dan memukau. Beberapa naskahnya yang menonjol, dan berulang-ulang dipentaskan, antara lain: Perjuangan Suku Naga, Selamatan Anak Cucu Sulaeman, Sekda, Mastodon dan Burung Kondor dan Panembahan Reso. Pertunjukan Bengkel Teater selalu sensasional dan memiliki daya tarik tersendiri. Sosok Rendra menjadi magnet pertunjukan sekaligus pembuat berita yang piawai. Selanjutnya Bengkel Teater, membangun komunitas di Depok yang dilengkapi dengan padepokan, ruang pertemuan, tempat pertunjukan serta lahan pertanian. Aktornya yang kuat antara lain: Ken Zuraida, Adi Kurdi dan Yose Rizal Manua.