Benedenstad

Benedenstad merupakan gambaran Batavia (Jakarta) tempo dulu dengan kanaal-kanaalnya, rumah-rumah yang dikelilingi oleh kanaal, jembatan-jembatan angkatnya, gudang yang dibangun VOC, gedung-gedung
pemerintah seperti Dewan Perwakilan, dan bangunan-bangunan lainnya yang mirip dengan kota di Belanda. Merupakan Kota Bawah atau kota lama (oude stadt/ old town) Batavia pada saat didirikan J.P Coen. Wilayah
ini di abad-19 mencakup bagian utara kota Batavia , sekitar Kali Besar, balai kota , pelabuhan lama, dan kampung Cina di Glodok, serta daerah antara Kali Besar dan Tijgersgracht.

Pengertian "Kota" mencakup daerah di dalam dinding kota lama Batavia . Sekarang masih digunakan untuk menunjuk pada bagian lama Jakarta utara. Meski Batavia menjadi nama resmi seluruh Kota Batavia di Hindia Belanda namun dalam penggunaan sehari-hari dikenal istilah kota bawah dan kota atas Batavia (abad ke-19). Konsep kota bawah dan kota atas meski bersifat informal namun telah dipahami orang untuk membedakan bagian utara kota yang disebut Batavia (kota bawah) dan bagian selatan yang disebut kota atas. Perbedaan ini diresmikan pada tahun 1905 ketika Kotapraja Batavia baru saja dibentuk, dengan memberi nama Batavia untuk daerah utara dan Weltevreden untuk daerah selatan.

Kota lama tetap menjadi pusat perdagangan sampai awal tahun 1916 namun di akhir abad 18 mulai berkembang menjadi daerah pemukiman utama orang Eropa. Daerah ini mencapai kejayaan saat perdagangan rempah antara Eropa dan Maluku mendapat keuntungan besar (1620-1730). Ketika keuntungan ini dimonopoli dan dikorupsi, keruntuhan Kota bawah mulai terasa. Apalagi ditambah dengan status Kota sebagai "kuburan orang Eropa", Batavia sebagai "Ratu dari Timur" mulai kehilangan pamornya.

Jumlah kematian penduduk makin meningkat akibat kesehatan dan kualitas air yang buruk serta pembangunan kolam ikan dekat kota yang menjadi sarang nyamuk malaria. Jalanan rusak, kanaal tertimbun,
benteng rusak, dan istana dilapisi debu. Orang Eropa jarang ditemui, hanya ada segelintir keturunan Portugis. Pada masa Daendels, dibongkarnya dinding kota menandai akhir Kota Lama sebagai jantung Batavia serta pergeseran pemerintahan Batavia ke Kota Baru di selatan. Meskipun begitu Kota Bawah tetap menjadi sentral
perdagangan dengan berbagai perusahaan dagang, asuransi, perkapalan, dan keagenan. Orang turun ke bawah untuk bekerja dan kembali lagi ke rumah di kota atas.