BELIS

Makhluk yang dipercaya oleh masyarakat Betawi sebagai orang halus. Untuk mencegah adanya gangguan orang atau makhluk halus tersebut perempuan yang hamil dalam tradisi Betawi biasa memakai benda-benda kecil yang tajam. Benda-benda tersebut dicantumkan di bajunya baik itu bempa pisau kecil, gunting kecil, atau gunting kuku. Sering pula perempuan hamil itu membawa sapu lidi bila ingin pergi belanja ke warung atau ingin
buang air besar.

Seperti pada lingkungan masyarakat lain di Indonesia, pengenalan keberadaan setan pada dunia anak-anak oleh orang tua dimaksudkan untuk menakut-nakuti anakanak agar mau tidur, jangan nakal, jangan berantem. Setan diperalat oleh orang tua untuk menertibkan anak-anaknya, bukan mereka mengajarkan paham yang musyrik.

Di masyarakat. Betawi ada beberapa prototipe setan, antara lain: Kolong Wewe adalah setan-perempuan ini payudaranya sebesar bantal. Anak yang diculiknya disembunyikan di balik payudaranya; Kuntil anak adalah setan yang dulunya adalah wanita meninggal saat melahirkan. Ia biasa berayun-ayun di ranting pohon dan tertawa cekikikkan. Pejalan kaki sering dilemparinya dengan pasir; Longga-longga ialah setan zaman purbakala ini tingginya kira-kira 5 meter; Setan kicik semacam tuyul; Setan bekatul adalah hawa nafsu yang menggoda perut manusia untuk doyan makan melebihi ukuran yang wajar; dan Setan si Jakob adalah setan Belanda di kawasan Bangka di Jakarta Selatan yang sering menghisap lisong (cerutu).