Belenggo

Salah satu jenis musik dan tari dari Betawi. Kata belenggo mungkin sama artinya dengan "tari". Kemungkinan ucapan belenggo merupakan perkembangan dari kata "lenggo", namun bisa pula kata "lenggo" itu diambil dari bahasa Jawa, yang artinya "duduk". Dalam kenyataan, pemain musik memang duduk di tikar dan penari-penari pun hampir tidak sepenuhnya berdiri, kecuali hampir berjongkok sambil menggerak-gerakkan tangannya sebagaimana lazimnya tarian padang pasir.

Belenggo sebagai suatu pementasan musik dan tari telah dikenal di Batavia sejak zaman penjajahan Belanda. Merupakan suatu pementasan khas Betawi dengan pengaruh Cina, mirip tari Ronggeng. Diiringi dengan tiga rebana yang berbeda ukurannya, satu atau dua rebab yang lazim digunakan dalam gamelan Sunda, yang kadang-kadang diganti dengan biola dan alat musik menyerupai kecapi yang disebut sampan cina. Gerak tarian sangat terbatas dan semua pemainnya lelaki.

Gerak tarian mempunyai banyak persamaan dengan tarian Melayu dan Gambus Zapin, musik dan tari yang dikenal di Batavia pada masa penjajahan Belanda. Tariannya tidak memiliki pola yang tetap. Pada umumnya gerak tarinya diambil dari gerak-gerak pencak silat dan tergantung dari perbendaharaan gerak pencak silat yang dimiliki penari yang bersangkutan. Lagu pengiringnya berupa lagu-lagu Melayu. Pakaian penari seragam hitam (seperti yang biasa dipakai pemain pencak silat).

Dahulu alat musik pengiripgnya orkes yang alat-alatnya terdiri dari tiga buah rebana yang tidak sama besamya, sebuah rebab yang umum digunakan dalam gamelan Sunda, atau diganti dengan biola, dan sebuah "moon guitar" yang terkenal dengan nama ''Cina Sampan." Berdasarkan musik pengiringnya, tari Belenggo dibagi menjadi dua macam:

1) Belenggo Rebana, O yang dimainkan oleh anggota grup Rebana Biang secara bergantian. Pada masa lalu Rebana Biang baru dimainkan apabila malam telah larut. Sebelumnya hanya dimainkan lagu dzikir dan lagu-lagu Sunda Gunung, misalnya lagu Kangaji, Anak Ayam, Sanggreh atau Sangrai Kacang, dan sebagainya. Apabila telah banyak yang mengantuk, maka barulah dimainkan tari Belenggo. Seniman Belenggo pada umumnya adalah petani.

2) Belenggo Ajeng, yang dimainkan dengan iringan Gamelan Ajeng. Penari dalam Belenggo Ajeng bukan hanya anggota rombongan Ajeng, tetapi orang-orang luar terutama yang bermaksud membayar kaul. Belenggo Ajeng dimainkan setelah 'nyapun', yaitu menaburi kedua mempelai dengan beras kuning, uang, dan bunga-bunga diiringi lagu khusus semacam kidung. Siapa saja yang berminat, dengan mendahulukan yang berkaul, dipersilakan untuk menari.

Tari Belenggo bersifat improvisatoris dan tidak membawa tema cerita ataupun lukisan tertentu. Tari Belenggo dilakukan di tengah-tengah pemain musik. Tari Belenggo ini diwariskan secara turun-temurun dan merupakan tontonan yang digemari masyarakat di wilayah Ciganjur, Jakarta Selatan. Masyarakat pendukung tari Belenggo Ajeng dengan sendirinya menjadi pendukung Gamelan Ajeng. Masyarakat tersebut adalah Kelapa Dua Wetan, Gandaria, dan Cijantung (Jakarta Timur).