BEKSI, JURUS

Aliran maen pukulan yang cukup banyak pendukungnya di Betawi Pinggir. Aliran ini berhubungan erat dengan pengamalan agama. Sedang jurus Beksi merupakan Salah satu dan empat jurus pertama maen pukulan Beksi. Jurus Beksi memiliki pukulan sebanyak delapan gerak, berarti setiap orang yang ingin mahir maen pukulan Beksi wajib melaksanakan shalat zuhur dan ashar. Jumlah raka'at kedua shalat sebanyak delapan raka'at, sama dengan jumlah pukulan jurus Beksi.

Sejak kemunculannya pada pertengahan abad ke- 19, secara perlahan maen pukulan Beksi menyebar ke seluruh wilayah Batavia dan daerah sekitarnya serta mengalami perkembangan jurus dan variasi gerakan. Perkembangan dan penyebaran seni bela diri Beksi tak lepas dari peran dan jasa empat murid utama Ki Than (Ki Jidan) yakni, Ki Ceng Ok (seorang peranakan Cina) dari Kampung Dadap, Ki Tempang dan Ki Muna dari Kampung Rawa Lumpang, dan Ki Dalang Ji'ah dari Teluk Naga. Perkembangan Beksi cukup menggembirakan. Terlihat ada kecenderungan memodifikasi beberapa jurus atau ada kreativitas di antara para pendekar Beksi.

Pada awalnya Beksi benar-benar mengandalkan kekuatan fisik untuk menjalankan jurus. Ketika itu unsur-unsur ghaibiyah belum menonjol. Namun dalam perjalanannya kemudian ada murid-murid atau pendekar Beksi yang mulai menggabungkan antara keahlian memainkan jurus dengan amalan (wirid) apakah yang bersumber dari Al Qur'an ataupun kepercayaan kejawen. Pengertian Beksi pun dikembangkan sedemikian rupa. Jika semula kata Beksi merupakan gabungan dua kata yaitu Bek yang artinya pertahanan dan Shi yang artinya empat penjuru. Perkembangan terkini , Beksi menjadi akronim "Berbaktilah Engkau Kepada Sesama Insan" . Sebagian besar pendekar dan guru Beksi telah bersepakat bahwa kalau orang mau benar-benar mengerti Beksi, ia harus mau berbakti kepada Allah, menegakkan kebaikan dan kebenaran serta membela kemanusiaan.