Becak

Kendaraan beroda tiga, digerakkan dengan tenaga manusia. Merupakan salah satu alat angkut yang sangat potensial baik mengangkut orang, hewan maupun dalam upaya pendistribusian barang-barang hasil pertanian baik sawah maupun pertanian ladang atau kebun. Alat angkutan beroda tiga yang dikayuh oleh pengendara di belakang seperti mengayuh sepeda. Bentuknya bagian depan sebelah kiri dan kanan terdapat 2 buah roda dengan di atasnya terdapat bangku yang mempunyai atap tertutup terpal. Sedangkan pengemudinya duduk dibagian belakang sambil mengayuh dan mengemudikan becak tersebut. Terbuat dari besi, papan kayu, roda sepeda, terpal, dan [removed][removed] kulit. Becak masuk Betawi, tahun 1940.

Komponen becak terdiri dari: ban becak ada 3 seperti ban sepeda dan dibuat dari karet. Roda ada tiga untuk tempat ban dan alat pemutar sehingga becak bisa bergerak. Pedal terbuat dari karet yang dibuat segi empat panjang sebanyak 3 buah setiap pedal antara satu dengan lainnya dihubungkan oleh besi. Stang, sebagai alat atau pegangan agar kendaraan itu bisa dikendalikan jalannya sehingga stabil tidak miring ke kiri dan ke kanan. Pelek dari besi stenlis, sebagai alat penahan ban dalam. Jok, tempat duduk pengendara sama dengan jok sepeda kecil. Sedangkan jok untuk penumpang ukuran 1/2 meter dan bisa diduduki 2 orang sampai 3 orang. Jok bagian dalam yang tebalnya ± 10 cm terbuat dari busa sedangkan bagian luar terbuat dari plastik. Bagian atas ada alat pelindung yang disebut kap agar penumpang tidak kehujanan atau kepanasan. Kap ini terbuat dari terpal tebal yang sisinya ada besi-besi tipis yang disambung dengan mur agar bisa dilipat-lipat.

Selain dihias dengan cat warna warni, becak sering diperindah dengan bulu-bulu ayam. Di bawah tempat duduk penumpang, sering direntang karet tipis yang bergetar bila tertiup angin, menimbulkan bunyi mendengung. Ada juga yang memasang potongan-potongan besi dan kaleng di bawah jok sehingga menimbulkan suara riuh. Pemilik becak, biasanya disebut tauke becak, menyewakan becaknya pada pengemudi. Sewa becak ini dibayarkan secara harian, pada waktu pengemudi mengembalikan becak.

Dari tahun ke tahun jumlah becak di Jakarta, makin banyak sehingga menimbulkan masalah lalu lintas dan kondisi ini diperparah oleh tingginya urbanisasi. Untuk membatasi jumlah becak yang ada di jalan-jalan, muncul solusi membagi becak menjadi dua bagian: yang beroperasi siang, dan yang beroperasi malam hari. Cara lain membagi dalam wilayah operasi, misalnya, pernah membagi becak dalam lima wilayah operasi, masing-masing dengan warna cat yang berlainan. Becak dari wilayah Jakarta Pusat, tak boleh beroperasi di Jakarta Timur.

Namun bermacam peraturan itu tak berhasil mengatasi masalah lalu lintas yang ditimbulkan oleh banyaknya jumlah becak. Pemda DKI Jakarta kemudian membuat peraturan yang lebih keras lagi, yakni menetapkan adanya Daerah Bebas Becak. Becak yang melintas di daerah itu ditangkap, dan becaknya disita. Yang jumlahnya mencapai ribuan, ditumpuk menggunung, dan lama-lama tak ada lagi tempat untuk menaruh becak-becak sitaan itu. Akhirnya, mulai tahun 1986 becak-becak sitaan itu dibuang ke laut, dijadikan rumpon ikan.

Karena kegiatannya makin dibatasi, sebagian pengendaraan untuk menjajakan barang dagangan, antara lain roti, kue-kue, es krim, dan lain-lain. Ada pula yang merombak becaknya menjadi kereta dorong pengangkut barang, atau gerobak sampah. Di beberapa bagian kota, fungsi becak kemudian digantikan dengan jenis lain seperti helicak, bemo, dan lain-lain. Jenis kendaraan itu disebut jenis angkutan keempat.