BATAVIASCHE KUNSTKRING, GEDUNG

Gedung Lingkaran Seni dari Nederland Indische Kunstkring (Assosiasi Lingkaran Seni Hindia Belanda). Terletak di Van Heutsz Boulevard (JI. Teuku Umar No.1), posisi istimewa di kawasan Menteng. Gedung ini merupakan jawaban, pada kebutuhan pada masa awal abad ke-20 beberapa warga kota Batavia mengambil inisiatif untuk menghidupkan seni murni dan seni rupa. Tanggapan masyarakat terlihat pada pameran-pameran seni lukis barat maupun timur.

N V. De Bouwploeg menyumbangkan sebidang tanah di Entree Gondangdia, pada tahun 1912. P.A.J. Moojen  presiden Kunstkring, merancang gedung representatif pada ujung boulevard utama, yang pada akhirnya gedung ini menjadi pusat kegiatan seni. Berdirinya gedung ini sebagai awal arsitektur modern di Indonesia. Lantai bawah disewakan untuk restoran Starn en Weyns, yang memakai selama sepuluh tahun, uang sewa dipakai untuk melunasi pinjaman yang diperoleh dari perusahaan asuransi Bataviasche Zee-en Brand Assurantie Mij. Gubernur Jenderal AWF Idenburg membuka gedung ini pada tahun 1914 dengan upacara besar.

Posisi yang istimewa di kawasan Menteng ini merupakan karya khas penting untuk sejarah arsitektur Jakarta dan seluruh Indonesia, yang membuka masa arsitektur rasional berdasarkan tuntutan kesederhanaan, efisiensi dan kebenaran. Cita-cita ini diwujudkan dalam denah dasar yang jelas merupakan sintesis struktural yang terang, kadang dalarn asimetri sederhana dan hiasan yang dipakai hemat. Rasionalisme menekankan unsur-unsur konstruktif seperti dinding dan tiang penopang, penyusunan batu-batu dengan teliti dan rapi hingga tercipta keindahan. Hal ini menginspirasikan Moojen dan E.H.G.H Cuypers 1927, keduanya dipengaruhi oleh Berlage.

Kreatifitas arsitek menciptakan keindahan bangunan melalui elemen-elemen fungsionalnya. Muka gedung ini khas dengan dua menara dan tiga pintu masuk diapit dua jendela yang tampak mirip. Lima balkon diatasnya yang ber-ustrade merupakan unsur horisontal yang menyatu seluruh tampak muka. Moojen menghasilkan bentuk bangunan sederhana namun apik dan asri. Beberapa detail menarik untuk diamati misalnya riga lengkungan di atas pintu masuk, deretan balkon di atas pintu utama, serta lampu bergaya dekoratif (sekarang ini hilang, katanya diamankan) dan jendela kaca patri (tahun 1999 dijarah tetapi dibiarkan). Kedua menara beratap kubah seakan-akan menyambut para pengunjung.

Interior dirancang indah antara lain menggunakan lapisan kayu gelap (lambrizering/panelling) yang tinggi pada dinding dengan memasang tangga lebar dari samping yang diterangi lewat jendela kaca patri. Lantai bawah terdiri dari satu ruangan besar yang sampai 1999 dikelilingi ruang-ruang kecil, dulu merupakan kantor Ikatan Seni serta perwakilan para seniman. Lantai atas dipakai sebagai ruang pameran yang kadang-kadang disewakan sebagai ruang resepsi. Bangunan ini merupakan landmark yang menjadi kebanggaan seluruh Menteng.

Berperan sebagai pusat kesenian dan kebudayaan sampai datangnya tentara Jepang tahun 1942. Pada masa kedudukan Jepang 1942-1945 tidak diketahui fungsi gedung ini, dan setelah kemerdekaan RI dikelola Direktorat Jenderal Imigrasi dan dijadikan sebagai Kantor Imigrasi Jakarta Pusat, sampai kemudian kepemilikan gedung ini diambil alih oleh PT. Mandala Griya Cipta.