BATAVIA, BUDAK

Mencakup para budak yang didatangkan dari Bengali, Arrakan, Malabar, dan Koromandel. Ada juga yang berasal dari berbagai pulau di Nusantara yang dijadikan budak karena kalah perang melawan VOC. Mereka berasal dari Bali, Makasar, dan Bugis. Kehadiran budak bersamaan dengan awal pembangunan kota Batavia dan meningkatnya kehidupan mewah. Semakin banyak budak yang dimiliki semakin tinggi kedudukan seseorang dalam masyarakat . Pada waktu itu tidak ada pembatasan mengenai impor budak walau sekali-kali ada semacam bea masuk. Para budak yang dibawa masuk ke Batavia biasanya dibawa berkeliling kepada pejabat pemerintah supaya bisa dipilih. Para budak tidak bekerja di perkebunan kecuali di Tanjung Barat (sampai 1831). Kebanyakan mereka bekerja sebagai pembantu di rumah-rumah, bahkan ada yang disewakan oleh para pemiliknya. Karena itu tidak jarang keluarga pegawai VOC yang miskin hidup dari sewa menyewa budak. Seorang Belanda , Non Wurmb pernah bercerita bahwa ia hanya mempunyai 2 budak, satu untuk memegang payung baginya dan yang lain untuk mengurus rumah.

Jika pemilik budak akan menjual budaknya ia membuat iklan mengenai kemampuan budaknya , seperti dapat mencukur, merajut kaos , menjahit, meramu tembakau, sifatnya jujur dan setia. Seorang budak perempuan diiklankan dapat meniup seruling dan memainkan biola. Selain berbagai ketrampilan tersebut di antara budak ada yang trampil sebagai koki, binatu, tukang separu, pembuat wig, tukang jam, penuang teh, kooimaaksters (membereskan tempat tidur), dan pembuat konde. Dengan ketrampilannya kadang seorang budak bisa menebus dirinya dan menjadi orang bebas.

Keadaan para budak sangat menyedihkan karena mengalami berbagai penganiayaan. Hal ini menyebabkan mereka sering mengamuk atau melarikan diri ke daerah Pacenongan. Apalagi budak dari tawanan perang yang berasal dari berbagai pulau di indonesia, sikapnya masih selalu menantang dan tidak mau menyembah. Penghapusan budak terjadi berangsur-angsur dan berakhir pada tahun 1860.