BASUKI RESOBOWO

Lahir pada tahun 1916, di Palembang, Sumatera Selatan. Putera seorang pengamat, dididik untuk karir sebagai guru di Sekolah Pelatihan Guru Taman Siswa di Jakarta. Walaupun sebenarnya ia mengajar pada suatu masa, pada 1948 ia mulai berkenalan dengan intensif dalam asosiasi, dekat dengan anggota-anggota terkemuka dari Persagi (Sudjojono, Agus Djaja, dan Basuki Abdullah), ketika ia bekerja di Pusat Kebudayaan yang disponsori Jepang antara 1942 dan 1945.

Selama revolusi ia adalah seorang anggota SIM baik di Solo maupun di Yogyakarta. Untuk sementara ia adalah ketua SIM. Ketika kembali ke Jakarta, ia bergabung dengan GPI pada 1950, dan pada 1954 asosiasi yang lain yaitu Masyarakat Seniman Jakarta Raya. Ia dipilih oleh Partai Komunis Indonesia sebagai calon pemilihan umum tahun 1955. Pada tahun 1960-an Resobowo menjadi ketua Lekra.

Lukisan-lukisannya telah dikenal oleh Kementrian Pendidikan dan Kementrian Luar Negeri; ia dikontrak oleh pemerintah untuk membuat sebuah potret pemimpin nasionalis Dr. Sutomo, yang sekarang tergantung di Istana Kepresidenan. Basuki Resobowo bekerja untuk sebuah perusahaan film, yang bagi perusahaan ini ia menulis skrenario satir yang berhasil yang berjudul 'Tamu Agung' . Akibat sikap politiknya, ia menjadi seorang eksil yang tinggal berpindah-pindah negara di luar negeri. Ia menyumbangkan esai tentang seni rupa kepada beberapa majalah, yang lalu dikumpulkan dalam buku "Seniman, Seni, dan Masyarakat" [1994], yang ditulisnya hampir setengah abad sesudah esai Sudjojono dengan jusul sama terbit [1947]. Ia mengajukan pendiriannya dengan lebih tegas, yaitu bahwa "seni" dan "politik" tidak bisa saling dipisahkan, dan bahwa seni harus dijiwai "Marxisme" jika hendak mengabdi kepada rakyat. Meninggal dunia di Amsterdam, 5 Januari 1999 dalam usia 83 tahun.