BASOEKI ABDULLAH, MUSEUM

Museum Basoeki Abdullah
Alamat Jalan Keuangan Raya, Cilandak Barat Jakarta Selatan
Telepon/fax 021-7698926 dan 021-75911870
Email Basoeki.abdullah@gmail.com
Jam buka Selasa-Jumat: 09.00 -16.00
Sabtu:09.00-15.00
Minggu:09.00-15.00
(Senin & hari libur nasional tutup)
Karcis Masuk
Per 2015
Dewasa:
Rp 2.000 (Perorangan)
Rp 1.000 (Rombongan)
Anak-anak:
Rp 1.000 (Perorangan)
Rp 500 (Rombongan)
Turis Rp 10.000
Website http://museumbasoekiabdullah.or.id
Latlong -6.289749,106.793438

 

Museum Basoeki Abdullah berada di kawasan Cilandak Barat, Jakarta Selatan. Lokasinya tidak jauh dari RS Fatmawati dan pusat perbelanjaan Cilandak Town Square. Museum ini tadinya merupakan rumah keluarga Basoeki Abdullah yang kemudian diserahkan kepada Pemerintah Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan Cq. Direktorat Permuseuman di tahun 1998, serta direnovasi menjadi Museum. Museum Basoeki Abdullah berdiri diatas bangunan rumah dua lantai seluas 600 m2 dan luas tanah 450 m2. Pada tanggal 25 September 2001, Museum Basoeki Abdullah ini diresmikan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Drs. I Gede Ardika.

Di dalam Museum Basoeki Abdullah terdapat koleksi lukisan dan koleksi pribadi pelukis Basoeki Abdullah seperti patung, topeng, wayang, senjata dan sebagainya. Jumlah koleksi museum yang dihibahkan berdasarkan data yang ada sebanyak 123 buah, sedangkan koleksi pribadi (barang dan benda seni) milik Basoeki Abdullah sebanyak 720 buah dan buku-buku serta majalah kurang lebih mencapai 3000 buah. Koleksi lukisan museum ini diantaranya adalah lukisan beberapa tokoh kenegaraan seperti lukisan Bung Karno, Bung Hatta, Ibu Tien Soeharto, Soeharto, Imelda Marcos, Ferdinand Marcos, Lee Kwan You dan Sultan Hasanah Bolkiah.

Museum ini melayani masyarakat dengan menggelar pameran, seminar, penelitian dan workshop, serta menerbitkan bermacam bentuk publikasi berupa katalog, biografi, kumpulan artikel dan hasil penelitian dan dari serangkaian kegiatan yang lain.

Basoeki Abdullah

Adalah tokoh seni lukis naturalis terpenting. Lahir di Solo, 27 Januari 1915 dan meninggal di Jakarta, 1993. Putra kedua Abdullah Suriosubroto (seorang pelukis naturalis era Indie Mooi) dan cucu dr. Wahidin Sudirohosodo, tokoh perintis Kebangkitan Nasional. Saudaranya, Sujono Abdullah dan Tridjoto Abdullah juga seorang pelukis. Bakat melukis Basoeki Abdullah terwarisi dari ayahnya Abdullah Suryosubroto. Seorang pelukis dan juga sempat mencatatkan namanya dalam sejarah seni lukis Indonesia sebagai salah satu tokoh Mooi Indie. Sejak umur 4 tahun Basoeki Abdullah mulai senang menggambar orang, diantaranya adalah beberapa tokoh terkenal seperti Yesus Kristus, Mahatma Gandhi, Rabindranath Tagore dan Krishnamurti. Pada usia 10 tahun, Basoeki Abdullah telah melukis tokoh Mahatma Gandhi dengan menggunakan pensil diatas kertas yang hasilnya luar biasa untuk ukuran anak seusia itu.

Pada 1933, ia dikirim ke Belanda untuk belajar melukis pada Akademis van Be/ldende Kunsten Free Academy offine Arts. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya ke Roma dan Paris. Ia memperoleh gelar Royal Academy, karena dapat menyelesaikan pendidikan yang seharusnya lima tahun menjadi tiga tahun. Ia juga sempat mendapat bimbingan dari pelukis Schumacher menjelang kepulangannya ke Indonesia.

Basuki Abdullah, merupakan sedikit dari pelukis-pelukis terdidik dalam dunia seni rupa Indonesia pada tahun 1930-an. Ia mengembangkan kemampuan dalam seni potret lukisan pemandangan alam lukisan-lukisan potretnya biasanya diidealkan, sementara komposisi bebasnya membawa satu selera romantis serta sedikit mewah. Sebelum Perang Dunia II, ia telah mendirikan sebuah sekolah seni di Jakarta, yang ditutup selama pendudukan Jepang. Pada masa itu, Basuki bergabung dalam Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA) yang dipimpin empat serangkai Ir. Soekarno, M. Hatta, KH. Mas Mansyur dan Ki Hadjar Dewantara. Perkenalannya dengan Soekarno inilah yang membuka pintu lebar-lebar untuk menjelajah dunia sebagai pelukis istana. Soekarno sendiri mengangkatnya sebagai pelukis istana pada tahun 1945 - 1961 dan memberinya kesempatan mengunjungi beberapa negara, yang kemudian juga menjadikannya pelukis istana di negara Muangthai dan Filipina.

Sampai tahun 1990, Basuki telah melukis hampir 100 orang pejabat tinggi, penguasa dan tokoh dunia. Ia juga telah mengadakan 51 kali pameran baik di dalam maupun luar negeri. Ia memperoleh gelar kehormatan Royal Court Arts dari negara Muangthai. Di negara inilah dia bertemu dengan Nataya Narerat, istri yang dinikahinya tahun 1962. Di antara lukisannya yang sangat terkenal adalah Nyi Roro Kidul yang menjadi Koleksi Bung Karno dan disimpan secara khusus di Hotel Pangandaran Beach. Selain sebagai pelukis, ia juga seorang penari tradisional, terutama dalam memerankan ksatria kera putih (Hanoman) dalam kisah Ramayana. Hasil karyanya banyak dikoleksi Presiden Soekarno. Pada tahun 1954 ia sempat menyelenggarakan pameran 50 lukisan kanvasnya di Hotel Duta Indonesia di Jakarta. Lukisan-lukisannya telah digelar sampai Inggris, Jepang, Portugis.

Selain dikenal sebagai pelukis, Basoeki juga pandai menari dan sering tampil dengan tarian wayang wong sebagai Rahwana atau Hanoman. Basoeki Abdullah tidak hanya menguasai soal pewayangan, dan budaya jawa dimana ia berasal tetapi juga menggemari komposisi-komposisi Franz Schubert, Beethoven, Paganini dengan demikian wawasan sebagai seorang seniman Basoeki Abdullah cukup luas dan tidak jawasentris. Sisi lain  yang menarik dari Basoeki Abdullah adalah rasa humoris yang ada dalam dirinya. Diantara koleksi pribadinya terdapat mainan tikus-tikusan, laba-laba dan ular-ularan yang digunakan untuk menggoda orang-orang yang dikenalnya dan yang dekat dengannya mengisyaratkan hal itu.

Dalam perjalanan hidupnya, Basoeki Abdullah menikah 4 kali. Istri pertamanya bernama Josephin, seorang gadis dari Belanda yang dinikahinya di Gereja Katolik Den Haag pada tahun 1937. Dari hasil pernikahannya dengan Josephin, Basoeki Abdullah dikaruniai seorang anak perempuan bernama Saraswati (1938). Pernikahan itu tidak berlangsung lama dan mereka berpisah. Tahun 1944, Basoeki menikah kembali dengan Maya Michel, seorang penyanyi seriosa mezzosoprano yang berbakat. Kecintaan pada dunia seni merupakan titik temu bagi keduanya yang merupakan seniman dan seniwati. Pernikahan inipun tidak lama, tahun 1956 keduanya berpisah. Lalu ditahun 1958, Basoeki Abdullah menikah kembali dengan wanita Thailand bernama Somwang Nol, tetapi pernikahan ini tidak berlangsung lama, sekitar 2 tahun, keduanya kemudian berpisah. Terakhir pada tanggal 25 Oktober 1963, Basoeki Abdullah kembali menikah dengan seorang wanita Thailand bernama Natasya Nareerat akhir hidupnya dikaruniai seorang putri bernama Cicilia Shidawati.

Pada hari Jumat, 5 November 1993, Basoeki Abdullah (78) meninggal secara tragis dirumah kediamannya (sekarang menjadi Museum Basoeki Abdullah). Ia terbunuh di pagi hari oleh seorang pencuri yang dibantu oleh tukang kebunnya sendiri yang berusaha mencuri koleksi jam tangan kesayangannya. Ia ditemukan oleh pembantunya dalam posisi tertelungkup, dengan tangan masih memegang kacamata. Banyak sekali media yang mencatat peristiwa terbunuhnya pelukis Basoeki Abdullah. Jenazahnya kemudian dimakamkan di desa Mlati, Sleman Yogyakarta, bersanding dengan makam dr. Wahidin Sudirohusodo, Kakek yang amat dicintainya. Pada tanggal 15 Maret 2003,  jajaran Resimen Mobil Polda Metro Jaya telah menangkap Andi Sembiring, pembunuh pelukis Nasional Basoeki Abdullah di Jalan Barito, Jakarta Selatan.

Karya Basoeki Abdullah

Menurut dokumen yang ada, karya-karya Basoeki Abdullah dapat diklasifikasikan dalam 5 jenis atau kategori tema yaitu:
1. Potret
Karya-karya ini masuk didalamnya adalah potret para pembesar maupun lukisan potret pesanan yang perah dibuat oleh Basoeki Abdullah. Kategori ini dianggap sebagai sesuatu yang khas dan ketat, karena dalam hal ini siapa yang ada dalam lukisan adalah mereka yang dikenal atau mereka yang digambar secara khusus maupun lukisan potret diri sendiri. Untuk ketokohan dan konsep teknik yang presisi atau kemiripan wajah menjadi nilai utama.

2. Figur Manusia
Dalam kategori ini, karya-karya yang termasuk didalamnya adalah lukisan dengan model manusia sebagai objek. Beberapa contoh diantaranya figur-figur perempuan telanjang atau sosok-sosok yang digambar karena alasan–alasan tertentu, seperti manusia dalam aktivitas budaya, aktivitas sehari-hari, anak-anak, ataupun kedekatan dengan konsep tentang humanisme dan ‘keindahan manusia’ versi Basoeki Abdullah.

3. Lanskap Alam
Dalam kategori ini, lukisan yang termasuk didalamnya adalah yang bertema pemandangan alam (gunung dan laut), situasi masyarakat yang sedang beraktifitas (seperti membajak sawah) sampai pada karya-karya yang melukiskan objek binatang dan tetumbuhan baik bersama-sama maupun sendirian. Dalam lanskap alam, karya-karyanya juga memadukan figur (biasanya wanita telanjang) yang sedang mandi di sungai atau pegunungan.

4. Drama, Mitos dan Spiritualitas
Kategori ini menggambarkan situasi pikiran Basoeki Abdullah yang penuh dengan sikap-sikap religius, serta spirit lokal dengan pembawaan yang romantis. Dalam kategori ini sejumlah tema dapat dimasukan, seperti cerita pewayangan (seperti Pergiwa-Pergiwati atau Gatot Kaca Melawan Antasena), dunia relhi (Jika Tuhan Murka), cerita rakyat (Joko Tarub), dunia mitos (Nyi Roro Kidul) maupun hal-hal yang terkait dengan tema-tema yang bersifat naratif, seperti Korban Kelaparan di Padang Tandus dan karya Batu-Batu Bersejarah. Kategori ini menandai rangkaian pemikiran Basoeki Abdullah yang tidak bisa lepas dari peran sosialnya sebagai anggota masyarakat.

5. Kebangsaan
Kategori ini merupakan sekumpulan karya-karya yang dimaksudkan sebagai bentuk sikap-sikap dukungan pada upaya pemerintah dalam konteks berbangsa dan menandai jejak-jejak yang menorehakan kepedulian terhadap persoalan sejarah bangsa. Karya-karya yang ada dalam potret ini dapat berupa potret para pahlawan dan isu perihal nasionalisme. Karya-karya yang bersifat mengetengahkan promosi kebudayaan dapat dimasukan dalam kategori ini. Contoh karyanya adalah Pangeran Diponegoro, Dr. Wahidin Sudirohusodo, Ir. Soekarno, gambar-gambar yang dibuat dalam rangka program kerjasama antar bangsa, seperti poster gerakan Non-Blok dan sketsa-sketsa masa Revolusi RI.