Banten, Babad

Karya sastra sejarah, dikarang di ibu kota Kesultanan Banten pada pertengahan abad ke-17. Aslinya ditulis dalam huruf Arab dan berbahasa Jawa Banten, disalin berulang kali sepanjang abad-abad berikutnya. Salinannya ditulis dalam huruf Jawa dan huruf Latin. Bentuk karangannya puisi dan dituturkan oleh Sandimaya atas permintaan Sandisastra, saudaranya. Disusun berdasarkan sumber tertulis yang disimpan dalam peri penyimpanan dokumen resmi serta untuk memenuhi keperluan sejarah leluhur bangsawan Banten.


Secara garis besar isinya dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu 1) bagian pertama yang lebih bersifat legendaris dan mitos; 2) bagian kedua yang lebih bersifat historis. Bagian pertama berisi cerita yang bertalian dengan tiga kerajaan Hindu di Pulau Jawa, yaitu Medang Kamulan, Pajajaran dan Majapahit yang dikaitkan dengan proses Islamisasi di Jawa. Bagian kedua berisi cerita mengenai perkembangan Kesultanan Banten sejak berdiri hingga terjadi peperangan antara Banten dengan Kompeni Belanda yang menduduki Jakarta.


Babad ini telah diteliti dan dipelajari berdasarkan pendekatan disiplin ilmu filologi dan sejarah oleh Husein Jayadiningrat dalam bentuk disertasi di Universitas Leiden,Belanda, berjudul Critische Beschouwing vande Sadjarah Banten (1913). Bagian pertama isi Babad Banten dianalisis secara filologis, sedangkan bagian kedua ditinjau secara historis. Selain terungkap karakteristik penulisan sejarah tradisional di Jawa, dalam studi itu tersusun pula rekonstruksi sejarah Kesultanan Banten sampai pertengahan abad ke-17, karena peperangan antara Banten dengan Kompeni terjadi tahun 1650.


Salah satu hasil studi itu yang terus digunakan dalam penulisan sejarah Indonesia adalah kesimpulan bahwa tokoh Sunan Gunung Jati yang dituturkan dalam Babad Banten identik dengan tokoh Faletehan atau Tagaril dalam berita Portugis berdasarkan persamaan peranannya. Tokoh tersebut adalah perintis berdirinya Kesultanan Banten dan ayah Maulana Hasanuddin, Sultan Banten pertama. Bagi orang Banten, Babad Banten merupakan sejarah resmi daerahnya. Beberapa naskah Babad Banten terdapat di berbagai perpustakaan, seperti Perpustakaan Nasional Jakarta, Universitas Bibliotheek Leiden, Museum Situs Kepurbakalaan Banten dan perorangan.