Balai Pustaka

Penerbit berbagai buku ilmu pengetahuan dan kesusastraan. Pada tanggal 14 September 1908, pemerintah Hindia Belanda membentuk Commissie voor de Indlandsche School Volkslectuur (Komisi Bacaan Rakyat dan Pendidikan Pribumi) yang diketuai oleh Dr. G.A.J. Hazeu dengan enam orang anggota. Tugas Komisi ini adalah memberikan pertimbangan kepada Direktur Pendidikan dalam memilih karangan-karangan yang baik untuk dipakai di sekolah dan dijadikan bacaan rakyat. Gagasan ini timbul karena kekhawatiran pemerintah Hindia Belanda dengan merajalelanya penerbitan buku-buku oleh pihak swasta yang dari segi politis dapat merugikan.

Kerja komisi ini baru terlaksana pada tahun 1910, ketika Dr. D.A Ringkes menjabat sebagai pimpinan. Sampai tahun 1916, kormisi ini menerbitkan buku-buku bacaan rakyat. Jenis cerita yang diterbitkan adalah cerita rakyat, cerita wayang, ringkasan hikayat-hikayat lama, cerita berisi teladan, dan buku-buku pengetahuan umum. Inilah sebabnya D.A. Ringkes disebut Bapak Balai Pustaka (HP). Pada 22 September 1917, Volkslectuur diubah sebagai Balai Pustaka. Beberapa persyaratan BP untuk menerbitkan buku: (i) tulisan tidak mengandung unsur-unsur anti pemerintah Hindia-Belanda, (ii) tulisan tidak menyinggung perasaan golongan atau suku bangsa tertentu, dan (iii) tulisan tidak menyinggung perasaan agama tertentu. Buku-buku terbitan BP tahun 1922-1941 disalurkan melalui perpustakaan sekolah dasar yang disebut Taman Pustaka. Selain itu buku tersebut dijual untuk umum dengan harga murah. Harga buku dapat ditekan semurah-murahnya karena adanya subsidi pemerintah Hindia-Belanda sebesar f100.000 sampai f400.000 setiap tahun (Satu sen f= I liter beras = Rp 350). Selain itu, BP mempunyai percetakan milik sendiri, sistem distribusi sendiri, dan pembelian kertas dilakukan secara besar-besaran. Pada jaman pendudukan Jepang (1942-1945), BP tetap menerbitkan pelbagai buku, bahkan beberapa buku propaganda Jepang. Kegiatannya tetap berjalan, karena Jepang kurang menyadari pentingnya badan penerbit tersebut sebagai pembina kebudayaan.

Dua tahun setelah kemerdekaan Indonesia (1945-1947), BP masih tetap hidup. Namun beberapa bulan menjelang tahun 1948, kegiatannya terhenti akibat pembahan sosial dan politik selama revolusi. Pada 1 Mei 1948, Balai Pustaka dihidupkan kembali sebagai penerbit di bawah lingkungan Kementerian Pendidikan dan Pengajaran. Akhirnya, BP menjadi Perusahaan Negara. Buku-buku kesusastraan terbitan Balai Pustaka pra-Perang Dunia II tak hanya penting untuk perkembangan sejarah sastra Indonesia modern, juga untuk sejarah sastra Jawa modern dan sastra Sunda modern.

Novel-novel Indonesia yang pertama diterbitkan BP adalah Azab dan Sengsara karangan Marah Rusli (1922) dan Salah Asuhan karangan Abdul Muis (1928).

Sejumlah pengarang Indonesia pemah menjadi redaktur BP, diantaranya S. Takdir Alisjahbana, Nur Sutan Iskandar, Achdiat K. Mihardja, Pramoedya Ananta Toer, Utuy T. Sontani, Rusman Sutiasumarga, Hamid Jabbar, Abdul Hadi W.M. dan Subagio Sastrowardoyo.