Bakar Menyan

Upacara yang masih bersifat religi dalam pertunjukan topeng di daerah Jakarta. Salah seorang yang terkenal dalam pekerjaan ini adalah Pong Hanif. Sejak tahun 1951, ia melakukan pekerjaan tersebut, secara turun temurun dari orang tua dan engkong-nya. Tugas ini tidak bisa dialihkan selain kepada anaknya sendiri.

Pelaksanaan "bakar menyan" dilakukan sebelum pertunjukan dimulai dan tidak boleh ada tetabuhan dahulu. Sebelum mulai bermain musik sudah terlebih dahulu meminta izin kepada "yang punya tempat" atau roh-roh leluhur baik di sekitar tempat pertunjukan maupun di tempat yang jauh. Tanpa itu pertunjukan bisa mendapat gangguan seperti pemain bisa jatuh sakit, mengenai orang yang mengadakan hajatan dan mungkin juga kepada para penonton.

Bakar menyan diartikan juga membaca doa yang ditujukan kepada roh-roh leluhur yang telah meninggal atau karuhun. Sesajen yang disajikan berupa rujak tujuh rupa dan kembang tujuh rupa, pisang atau sisir, beras 1-10 liter, kelapa muda, bumbu dapur serra beberapa macam minuman seperti kopi pahil, kopi manis, teh pahit, juga teh manis. Semua sajen diletakkan dekat gong, karena di tempat itulah yang dianggap paling aman. Upacara bakar menyan pun dilakukan.