BAKAL

Atau membakar adalah adat kebiasaan yang sering dilakukan masyarakat Betawi dahulu dengan maksud untuk menyambut kedatangan calon pengantin laki-laki yang akan mengunjungi rumah calon mertuanya untuk bersalaman pada waktu Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri. Prosesi ini merupakan keharusan bagi seorang pemuda yang telah bertunangan, bila waktu nikahnya akan diadakan melampaui hari Lebaran. Biasanya para pemuda yang telah mengetahui akan kedatangan calon pengantin laki-laki ke rumah calon istrinya akan menyambut dengan melemparinya dengan petasan yang telah dinyalakan. Di pihak lain, calon pengantin laki-laki yang sudah mengetahui akan adanya sambutan seperti itu juga mempersiapkan diri dengan membawa beberapa pengawal yang tidak takut petasan.

Begitu petasan dilemparkan ke arah calon pengantin laki-laki, para pengawalnya pun cepat bertindak: menepis dan menendang petasan yang diarahkan kepada yang bersangkutan, sampai ia selamat tiba di depan pintu. Sesudah itu lemparan petasan pun dihentikan. Pada saat sedang ramai-ramainya petasan dilemparkan, tepuk sorai dari yang melempar atau pun yang menonton di pinggir jalan sangat ramai, sedangkan para pengawal sibuk dengan tugasnya. Selanjutnya setelah semua acara selesai maka para tamu dan penyambut saling memaafkan, dan sesudah dijamu dengan makanan dan kue-kue sekedarnya, maka pulanglah calon pengantin laki-laki beserta para pengawalnya tanpa dilempari petasan lagi.