Bagio, S.

Salah seorang tokoh lawak, lahir di Purwokerto, 1933 dan meninggal di Jakarta, 1993 . Ayahnya, seorang pamongpraja, menghendaki agar Bagio bisa jadi ambtenar, tapi ia memilih terjun ke dunia lawak atas ajakan Dradjat pada tahun 1952. Ayah dari sebelas orang anak ini selain punya ijazah SMA dan STM, juga sempat kuliah di fakultas Hukum UGM namun tidak selesai. Karirnya di dunia lawak bermula dari keikutsertaannya pada sayembara melawak di Yogyakarta dan berhasil menang. Melihat kemampuan Bagio, Usmar Ismail mengusulkan agar dia meneruskan karirnya di Jakarta. Kesempatan pindah baru terbuka ketika pelawak Hardjo Muljo menawarkan dia bersama partnernya Eddy Sud dan Iskak main film Gaja Remadja di tahun 1960. Merupakan awal karir group lawak E.B.I (Eddy Sud, Bagyo, dan Iskak) di Jakarta.

Tidak sulit baginya mengembangkan karir di Jakarta. Tawaran main film datang beruntun, meskipun sebagian hanya peran-peran tambahan. Film-film yang pernah dibintanginya antara lain Gaya Remaja, Detektip Dangdut, Lompong Sagu, Mat Dower, Buah Bibir, Ateng Pendekar Aneh, Pulau Putri dan masih banyak lagi. Setelah beberapa tahun berjalan, terjadi bongkar pasang dalam groupnya. Trio E.BJ berubah menjadi Bagio-Iskak dan Atmonadi, tapi ini pun tidak bertahan lama. Atmonadi kemudian digantikan oleh Ateng. Belakangan terjadi lagi perubahan formasi, Ateng dan Iskak membentuk group sendiri, sementara Bagio bergabung dengan S. Diran, Sol Soleh dan S. Darto. Secara kebetulan nama depan mereka diawali dengan huruf "S", tapi mereka lebih cenderung untuk memilih nama Bagio Cs pada setiap pemunculannya.

Ia bersama groupnya selalu berada di deretan paling depan di antara sekian banyak kelompok "pengocok perut" yang tumbuh dengan pesat. Ia profil seorang pelawak yang mampu bertahan secara terus menerus selama puluhan tahun. Pelawak lain yang setaraf dan punya nama besar seperti dia ialah Bing Slamet, Atmonadi, Ratmi B 29 (semuanya sudah almarhum). Berbagai penghargaan pernah dia terima dalam hubungan profesinya sebagai pelawak antara lain tahun 1982 menerima penghargaan sebagai: Best Indonesia Clown (Gold Gufo) tanggal 27 Maret 1982, suatu penghargaan dari aktor film Itali ternama, Franco Nero. Di bidang film pun ia punya prestasi tersendiri. Kegiatannya di film tidak hanya terbatas sebagai pemain, tapi pernah juga menulis skenario dan juga asisten sutradara. Ia pun pernah pula memimpin group band, meskipun tidak sempat bertahan lama. Sebagai artis ia tergabung dengan Padi, KFT dan Paguyuban Pelawak Indonesia (Ketua I) dan Ketua Umum Ikatan Pelawak Indonesia. Salah satu akting terbaiknya, yang hampir sama sekali tidak ada unsur lawaknya, adalah film Sang Guru (1981), film garapan Edward Pesta Sirait dan skenarionya digarap Parakitri. Bagio juga dikenal sebagai bintang iklan, salah satu anekdot yang hingga kini masih populer adalah: kalau sudah duduk lupa berdiri.