BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE

Lahir di Pare-Pare, 25 Juni 1936. Presiden Indonesia
ketiga, menggantikan Presiden
Soeharto setelah mundur dari jabatannya
pada 20 Mei 1998, setelah sebelumnya untuk
beberapa waktu menjadi Wapres. Sebelumnya
pernah menjadi Menteri Negara Riset
dan Teknologi, merangkap ketua Badan
Pengkajian dan Pengembangan Teknologi
(BPPT), dan Presiden Direktur PT Nurtanio,
perusahaan pembuat pesawat terbang di Indonesia.

Lahir di Pare-Pare, 25 Juni 1936. Presiden Indonesia ketiga, menggantikan Presiden Soeharto setelah mundur dari jabatannya pada 20 Mei 1998, setelah sebelumnya untuk beberapa waktu menjadi Wapres. Sebelumnya pernah menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi, merangkap ketua Badan Pengkajian dan Pengembangan Teknologi (BPPT), dan Presiden Direktur PT Nurtanio, perusahaan pembuat pesawat terbang di Indonesia.

Panggilan akrabnya adalah Rudy, anak ketiga dari empat bersaudara. Ayahnya berasal dari Gorontalo dan ibunya asal Jawa. Habibie dibesarkan dalam keluarga yang taat beragama, ia sejak kecil sudah fasih membaca Al-Quran. Sejak kecil, juga telah mengenal Presiden Soeharto sewaktu memimpin Brigade Mataram untuk menumpas pemberontakan Andi Aziz di Makasar, bermarkas di seberang rumahnya. Pada usia 13 tahun, ketika ayahnya meninggal, Soeharto dan dokter brigadenya berada di sisinya.

Sepeninggal ayahnya, keluarga Habibie pindah ke Bandung. Ia kemudian belajar di Institut Teknologi Bandung, dilanjutkan ke Universitas Aachen Jerman Barat, bagian rekayasa pesawat terbang sampai mendapatkan gelar Ing. Dpl dan Doktor. Karena prestasinya, diminta untuk menjadi guru besar di almamaternya, tetapi ia menolaknya karena tak ingin terlalu terikat. Setelah lulus, Habibie bekerja di pabrik pesawat terbang Hamburger Flugzeugbau (HF) di Jerman Barat yang kemudian bergabung dengan MBB (Messerschmidt Boelkow Blohm). Jabatan terakhir yang didudukinya adalah wakil presiden direktur MBB, suatu perusahaan dengan sekitar 40.000 karyawan.

Pada awal tahun 1974, Habibie kembali ke Indonesia dan diangkat sebagai penasihat teknologi presiden, di samping memimpin Divisi Teknologi Pertamina. Pada pertengahan 1976, ia dilantik sebagai Direktur PT Nurtanio di Bandung. Ia juga menjadi ketua Otorita Pengembangan Pulau Batam, direktur utama PT PAL dan PT Pindad, serta berbagai jabatan strategis lain. Kemudian secara keseluruhan, bertanggung jawab atas delapan industri besar. Dengan pengangkatan ini, ia melepaskan jabatannya pada MBB, selanjutnya hanya menjabat sebagai penasihat ahli MBB. Pada 31 Maret 1978, Habibie dilantik menjadi Menteri Negara Riset dan teknologi dalam Kabinet Pembangunan III. Dalam Kabinet Pembangunan IV, jabatan itu tetap dipegangnya, merangkap sebagai ketua BPPT.

Di bawah pimpinannya, Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) berkembang dengan pesat. Selanjutnya perusahaan itu mampu memproduksi beberapa jenis pesawat terbang dan helikopter. IPTN bekerja sama dengan perusahaan penerbangan Boeing, Bell, Aerospatiale, MBB dan CASA. Habibie juga memacu pembangunan laboratorium ilmu pengetahuan dan teknologi di Serpong.

Laboratorium serupa direncanakannya dibangun di Cibinong Selain itu Habibie memprakasai pendirian Dewan Riset Nasional dan rencana pembentukan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia Beberapa ternan Habibie mengatakan bahwa ia rasional seperti orang Jerman, hemat seperti orang Yahudi dan Cina, dan rendah hati seperti orang Jawa. Juga dikenal mempunyai pengaruh besar terhadap terbentuknya Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), dimana ia berkedudukan sebagai ketua umumnya. Lembaga ini menghimpun intelektual-intelektual muslim Indonesia di berbagai bidang, yang kemudian memicu adanya kontroversi tentang bangkitnya kembali sektarianisme.