AUGUSTIN SIBARANI

Lahir di Medan, 25 Agustus 1925. Seorang pelukis, tepatnya karikaturis, yang menurut Ben Anderson, disebut-sebut sebagai yang terbesar di negeri ini. Ia memulai karir sebagai pelukis potret. Kebanyakan ia melukis potret keluarga-keluarga mereka yang sudah mati. Sebagai karikaturis, mulai berkarya saat berusia 25 tahun, saat dikunjungi seorang temannya, Anwar Isnudikarta, seorang aktivis Partai Sosialis Indonesia. Tamu itu mengajaknya ke pertemuan, dan semuanya terjadi di aula Hotel Des Indes. Sementara pidato-pidato berlangsung membosankan, ia membunuh waktu dengan mencorat-coret, menggambar sketsa sebagaimana sering ia lakukan di bangku sekolah.

Seorang wartawan, bernama Del Bassa Pulungan dari koran Merdeka, menantangnya membuat karikatur yang bagus. Ia pun membuat karikatur Mr. Mohammad Yamin, yang tengah berpidato, dan ketika pulang, ia membuat gambar orang yang sama tengah memukul Sultan Abdul Hamid, seorang tokoh federal dari Republik Indonesia Serikat, dengan gaya kocak. ltu tak hanya membuat karikaturnya muncul di halaman depan Merdeka, namun juga membuatnya semakin lebur ke dunia karikatur.

Awal tahun 1953, Sibarani menerbitkan tiga buku kartun untuk anak-anak, Si Kasmin Pergi ke Kota, Musik si Beber, dan Rumah si Bolang. Buku ini diterbitkan Alex Sutantio dan Lily, putri mantan Perdana Menteri Sutan Sjahrir. Ia membuat gambar binatang ala Walt Disney, dicetak berwarna di Belanda, dibayar putus seharga Rp 22 ribu. Cukup untuk membuatnya kaya mendadak. Setelah itu, ia berkenalan dengan seorang Belanda pemilik toko buku dan sekaligus penerbitan yang ia biasa panggil sebagai "Iuan Gotfried" yang mengagumi ketiga bukunya, sebab laku dibeli anak-anak gedongan, dan menawarinya menerbitkan buku baru, dengan konsep yang berbeda. Buku kumpulan gambar lelucon berikutnya, yang ia kumpul-kan dari majalah Aneka, terbit dengan judul Senyum, Kasih, Senyum.

Tapi sepanjang kekuasaan Orde Baru, betapa sulitnya menerbitkan kembali karikatur, yang ringan sekalipun. Sibarani harus menunggu tumbangnya kekuasaan Orde Baru untuk bermimpi menerbitkan buku karikatur kembali. Ia menyelundupkan fotokopi karikatur-karikaturnya ke tangan mahasiswa. Pada 1998 sejumlah media Prancis menerbitkan karya-karyanya, seperti Le Monde Diplomatique, Humanite, dan La Lettrede. Karikaturnya kemudian berkeliaran di internet, terbang ke Amerika Serikat, dan dimuat di jurnal Indonesia terbitan Universitas Cornell.