Asung Dahar

Upacara untuk koeksistensi dengan arwah nenek moyang yang diyakini berpengaruh pada kehidupan profan orang Betawi. Di beberapa tempat upacara ini disebut dengan merowahan. Karena dilakukan pada bulan Sya'ban yang disebut juga bulan Ruwah, yang mengandung arti bulan untuk mengingat arwah orang tua dan sanak saudara yang lebih dahulu meninggal dunia. Orang banyak berdoa dan tahlilan mendoakan orang yang sudah meninggal. Jamaah biasanya membawa air putih baik di botol, ketel, eskan, gelas besar, serta toples dan diletakkan di tengah lingkaran. Air ini diyakini mujarab karena sudah dibacakan surat Yasin dan ditahlilkan. Pada umurnnya air itu memang manjur untuk menyembuhkan penyakit panas, kesambet maupun penyakit lainnya.

Pada saat tahlilan ini jamaah mengeluarkan uang shalawat yang dilemparkan ke lingkaran, bukan dimasukkan ke kotak amal seperti yang dilakuan pada umurnnya. Uang ini dikumpulkan oleh merbot masjid dan diberikan kepada kyai yang memimpintahlil. Melempar uang shalawat ini memang hanya terjadi di tempat-tempat tertentu saja, tidak di seluruh Betawi. Dalam upacara asung dahar ini, orang-orang mendatangi kuburan Bapak/Ni Uyut dengan membawa seperangkat makanan terdiri dari uli, bekakak ayam disemur, sayur asem, lauk pauk lain, dan buah-buahan. Unsur terpokok adalah uli dan bekakak ayam, yang ditempel di batu makam lempengan kepala jenazah. Lalu diadakan upacara yang dipimpin Bapak Kuncen, juru kunci, yang membakar kayu dekat makam, lalu disentuhkan ke tangannya sambil membaca doa/mantera. Usai upacara, uli dan bekakak ayam itu baru boleh dimakan.