Astari Rasyid

Lahir di Jakarta 26 Maret 1953. Tahun 1975-1976 pernah belajar Rancang Busana di London. 1988 Kursus melukis di University of Minnesota USA dan College of Art London. Menjadi Ketua Komite Seni Rupa DKJ, Anggota Yayasan Kesenian Jakarta dan menjadi Dosen IKJ. Astari adalah salah satu perupa kontemporer yang memadukan bakat, ketrampilan, dan teknik dengan pemikiran mendalam, sentuhan sejarah, dan imaji inovatif. Sosok terkemuka di dunia seni, dan dikenal dengan lukisan-lukisannya yang menggunakan "kolase media ragam", serta mengeksplorasi isu-isu kehidupan perempuan dalam tradisi budaya Jawa masa kini, khususnya rasa ketidakadilan dan ketidaksetaraan karena perbedaan gender. Di dalam lukis karyanya, yang tampak penuh humor sebenarnya mengandung kritik tajam serta kemarahan atas prosedur hukum di negeri ini.

Lukisannya menggambarkan wanita yang harus bersikap macho/gagah, dingin layaknya laki-laki, untuk bisa bertahan dalam system patriarti feodal. Namun seperti biasa Astari tetap halus dalam mengangkat isu sosial dalam lukisannya, tanpa mengabaikan prinsip keseimbangan yang merupakan salah satu ciri budaya Jawa. Unsur plesetan dan humor sebenamya selalu ada di dalam karya-karyanya walaupun mungkin "audience" nya baru melihat sekarang. Stereotype gender diletakkan di bawah kaca pembesar untuk mempertanyakan pemahaman umum mengenai apa peran perempuan dan apa peran laki-laki dalam masyarakat Indonesia masa kini, dan sebagaimana anomali realitas gender sering terjadi tanpa dihiraukan.

Tradisi Jawa telah menjadi bagian inspirasi karyanya dari awal tahun 1980-an, yang khusus dilihat oleh Astari dari sudut pandang "idiosyncrasy" atau bagaimana karakter-karakter maupun kebiasaan-kebiasaan khas Jawa yang kompleks, kadang-kadang aneh, tidak lazim dan seringkali tidak masuk akal, namun diakui dan masih dijalani. Suatu proses yang cukup panjang, tempat ia mendapatkan pengetahuan yang lebih dalam mengenai idiosyncrasy budaya Jawa yang banyak mendominasi dan mempengaruhi perilaku manusia Indonesia, baik perempuan maupun laki-lakinya dalam banyak aspek kehidupan hingga saat ini. Menelaah hasil karyanya, ia bukan seorang feminis, tetapi karya-karyanya yang feminim banyak mengangkat isu-isu gender dan perempuan khususnya. Ia cukup berani mengeksplorasi dunia patriarki feodal budaya Jawa masa kini. Pada tahun 1982 hingga hari ini aktif pameran di Jakarta, Singapura, Amerika Serikat, Perancis, dll.