ASHIN JINARAKKITA

Biksu Indonesia pertama setelah agama Budha menghilang dari bumi Indonesia bersamaan dengan runtuhnya Kerajaan Majapahit. Jinarakkhita sering dianggap sebagai pelopor kebangkitan agama Budha Indonesia.

Jinarakkhita lahir di Bogor tahun 1923. Setelah menyelesaikan sekolah dasarnya di Bogor, ia melanjutkan ke Jakarta. Kemudian ke THS (sekarang ITB) Bandung pada Jurusan Ilmu Pasti-Alam, namun terhenti pada waktu penjajahan Jepang. Kesempatan untuk melanjutkan pendidikannya muncul pada permulaan tahun 1946. Berkat bantuan seorang guru besar Universitas Groningen, Jinarakkhita dapat belajar di sana untuk memperdalam ilmu Kimia. Di samping belajar temyata ia selalu berusaha memberi  pelajaran tambahan bagi para siswa lainnya. Kegemaran ini merambat ke usaha pemberantasan buta huruf dan pembangunan dapur umum di Bogor pada masa penjajahan Jepang.

Kembali dari Belanda Jinarakkhita memasuki kehidupan sebagai seorang anagarika selama hampir dua tahun sebelum menjadi samanera. Saat menjadi anagarika, pada tanggal 22 Mei 1953, ia mengorganisasi peringatan hari Trisuci Waisak (Wezak) secara nasional di Borobudur yang pertama sejak agama Budha tertidur hampir 5000 tahun. Pada tanggal 29 Juli 1953, Jinarakkhita melanjutkan kehidupan suci dengan menjadi samanera dengan nama Thi Cen. Pentah bisannya dilakukan menurut tradisi Mahayanan oleh Mahabhiksu (Pen Ching Lao Ho Sang) dari Kong Hoa Sie di Jakarta yang disaksikan oleh Mahabhiksu Ju Sung, Biksu Ju Khung, Cen Yao, dan Wu Cing. Atas anjuran Pen Ching, gurunya pertama, Jinarakkhita berangkat ke Burma awal tahun 1954 untuk memperdalam agama Budha. Pada bulan April 1954, Jinarakkhita menjalani pentahbisan menjadi biku secara penuh (upasampada) dengan guru spiritual (upajjhaya) utamanya Yang Ariya Agga Maha Pandita U Ashin Sobhana Mahathera atau yang lebih dikenal Mahasi Sayadaw.

Di Lembah Cipendawa, Pacet, Cipanas, didirikan kompleks wihara Sakyawanaram, tempat Jinarakkhita mencoba melebur agama Budha dengan berbagai unsur kepercayaan setempat dalam upaya untuk memperoleh agama Budha yang berkepribadian Indonesia. Pemujaan terhadap Prabu Ragamula Suryakancana, raja terakhir Kerajaan Pajajaran, merupakan salah satu bentuk kepercayaan yang mendapat tempat di daerah tersebut. Hal ini berkaitan dengan sejarah agama Budha dulu karena Tantrayana rnerupakan ajaran yang dianut raja-raja Pajajaran.Untuk membantu usahanya, pada tahun 1954 Jinarakkhita mendirikan Persaudaraan Upasaka Upasika Indonesia (PPUI) yang akhimya berubah nama menjadi Majelis Budhayana Indonesia (MBI) pada tahun 1979, dan bergabung dalam perwakilan umat Budha Indonesia (WALUBI).

Setelah jumlah biksu di Indonesia rnencapai lima orang. Ashin Jinarakhita menetapkan berdirinya Sangha Suci Indonesia, yang berubah menjadi Maha Sangha Indonesia pada tahun 1963. Tetapi pada tahun 1971 timbul perpecahan dan pada tanggal 12 Januari 1972 lima biksu membentuk Sangha Indonesia yang berorientasi tradisi Theravada. Dengan bantuan Dirjen Bimas Hindu dan Budha, kedua sangha ini di-satukan kembali dengan nama Sangha Agung Indonesia (SAGIN) dan Jinarakkhita terpilih sebagai ketua (Maha Nayaka), namun tidak berlangsung lama. Pada tahun 1976, sejumlah biksu mendirikan Sangha Thera-vada Indonesia dan tahun 1978 sejumlah siswa yang lain, yang berorientasi tradisi Mahayana, mendirikan Sangha Mahayana Indonesia. Di bawah naungan SAGIN, Ashin Jinarakkhita rnembentuk Sangha Hinayana, Sangha Mahayana, Sangha Tantrayana, dan Sangha Wanita Indonesia.

Sejak awal kariernya, Ashin Jinarakkhita selalu terlibat kegiatan keagamaan Budha Internasional. Beberapa konferensi kaum Budha Internasional diikuti, antara lain Pasamuan Keenam (Chatta Sangayana) di Rangoon (1954-1956), dan konferensi yang diadakan The World Buddhists Sangha Council dan The World Fellowship of Buddhist. Dalam organisasi Internasional, jabatan yang pernah dipegangnya adalah sebagai wakil presiden, juga untuk The World Buddhist Social Service.