AS SHALAFIAH, MASJID

Salah satu masjid tua, yang terletak di Kampung Jatinegara Kaum. Merupakan salah satu peninggalan dari Pangeran Jayakarta yang digunakan menyiarkan agama Islam. Masjid ini sangat penting untuk menelusuri sejarah Jakarta, berkaitan latar belakang masjid dan di pekarangan masjid yang terdapat beberapa makam bangsawan Banten yang meninggal pada akhir abad ke17 dan awal abad ke-18. Fakta yang menunjukkan bahwa sejak lama Jatinegara Kaum telah berhubungan erat dengan kalangan ningrat Banten sekurang-kurangnya sejak tahun 1670. Orang yang dikubur dekat masjid as Shalafiah, yakni Pangeran Sanghyang, Pangeran Sageri dan Raden Sakee kesemuanya termasuk anggota keluarga Kesultanan Banten. Mereka dikenal memerangi Belanda pada awal perlawanan Sultan Tirtajasa sekurang-kurangnya 1670.

Gedung masjid ini berisi sisa-sisa bangunan dari sebuah masjid yang sudah sangat tua. Bagian tertua masjid asli adalah keempat soko guru yang terletak di tengah-tengah ruang utama. Nama as Shalafiah memang berarti "tua". Di dalam masjid tersimpan sebuah tasbeh besar (pernah hilang, namun setahun kemudian secara ajaib bisa kembali) dan golok (sudah hilang). Menurut cerita orang tua, setiap malam Jumat golok tersebut memberikan cahaya terang di dalam masjid. Selain itu, Pangeran Jayakarta juga mempunyai sebuah tombak "Biring Galih dan Birih Lanang," namun sudah hilang. Tiang dan dinding masjid dibuat dan kayu. Masjid sudah mengalami beberapa perbaikan. Pertama kali oleh Pangeran Sageri (1700), Tubagus Aria Kasim (1842), dan ditembok oleh warga Jatinegara Kaum (1933). Bangunan masjid dipugar oleh Pemerintah dan diresmikan Gubernur Sumarno tanggal 13 Januari 1961. Dan kemudian makammakan tua yang terletak di samping masjid diperbaiki pada tahun 1968 atas perintah Gubernur Ali Sadikin.