Arsip Nasional, Gedung

Pada awalnya merupakan bangunan di luar kota untuk rumah peristirahatan Reinier de Klerk, seorang pedagang besar anggota Road van Indie, dan Gubernur Jenderal. Dibangun pada tahun 1760 di Molenvliet di atas sebidang tanah luas ketika ia masih menjabat anggota Dewan Hindia. Kemudian milik Johannes Siberg (Gubernur Jenderal tahun 1801-1805). Tahun 1818 dijual pada Lambertus Zegers Veeckens, presiden Raad van Financien (Dewan Keuangan).

Setelah beberapa kali berganti pemilik, maka sekitar tahun 1819 akhirnya berpindah tangan pada Leendert Miero, seorang tukang emas Yahudi, tuan tanah yang kaya. Lalu ber-pindah ke tangan menantunya, notaris Joan Comelis Mayer dan tahun 1844 dijual pada College van der Hervormde gemeente (Dewan gereja Jemaat Pembaruan). Waktu itu gedung mengalami perubahan. Bagian depan ditambah dengan ruang gaya Yunani untuk gereja dan taman kanak-kanak, tetapi dibongkar lagi oleh Pemerintah Hindia Belanda.Pekarangan belakang dibuat tempat bermain dengan ditanami pohon pisang, dan bangunan dipakai sebagai rumah piatu.

Dewan gereja merasa tempat itu kurang cocok untuk gereja dan rumah piatu, sehingga tahun 1900 dijual pada Pemerintah Hindia Belanda. Untuk mencegah dari kehancuran dan kerusakan, pada tahun itu gedung tersebut dipakai oleh Pemerintah Belanda, bahkan untuk beberapa lamanya sempat pula digunakan untuk kantor Dinas Pertambangan. Pada tahun 1925, gedung ini dimanfaatkan sebagai Gedung Arsip baik oleh pemerintah Hindia Belanda maupun pemerintahan Republik Indonesia. Pada akhirnya, bangunan yang terletak dalam taman yang penuh bunga dan dipisahkan dari jalan oleh pagar besi yang kokoh dan sebuah pintu gerbang yang elok di kawasan Jalan Gajah Mada 112 ini digunakan untuk Gedung Arsip Nasional