Arjuna Wijaya, Patung

 

PATUNG ARJUNA WIJAYA

Dimensi :

Panjang Total

25,8 meter

Tinggi Patung

2,87 meter (figur kuda), 2,0 meter (figur Arjuna)

Lebar

2,8 meter

Panjang Patung

25,77 meter

Lebar Barisan Kuda

2,1 meter

Tinggi Kuda

2,87 meter

Material :

 

Bahan

Tembaga dan kuningan

Pewarnaan

Menggunakan patina

Rangka

Stainless steel

Berat dan Jumlah Patung :

 

Figur orang

2 patung (1 buah Patung Arjuna, 1 buah Patung Batara Kresna)

Kereta Perang Kencana

1 patung

Kuda

18 patung (8 buah patung kuda dengan 10 buah patung bias bayangan kuda)

Berat total

+/- 3,5 ton

Seniman

Nyoman Nuarta

Penyandang Dana

Bank OCBC NISP

Pelaksana Pekerjaan Kolam, Air Mancur, Taman dan Pencahayaan

PT. Lusindonauli Putra Mandiri

 

Pembangunan Patung Arjuna Wijaya sejak awal adalah sebuah bentuk pengabdian masyarakat dalam keikutsertaan membangun Jakarta sebagai Ibukota kebanggaan Bangsa Indonesia. Hasrat mempercantik kota Jakarta didasari oleh keinginan masyarakat untuk menjadikan Jakarta kota yang ramah, indah dan berbudaya.

Arjuna Wijaya adalah ungkapan kata dari kemenangan Arjuna dalam membela kebenaran dan keberaniannya secara simbolis memberikan apresiasi terhadap sifat-sifat kesatriaan yang dahulu kala senantiasa dipahami masyarakat melalui cerita-cerita epos “Mahabrata”. Fragmen tersebut menggambarkan bagaimana Arjuna dan Batara Kresna bertempur melawan Adipati Karna. Patung Arjuna Wijaya dibuat pada tahun 1987 ketika masih di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto.

Presiden Soeharto adalah seorang penikmat dunia pewayangan yang syarat dengan pesan moral dan filosofis. Kedelapan kuda yang ada pada fragmen patung Arjuna Wijaya memiliki makna bahwa seorang pemimpin harus hidup berdasarkan 8 unsur penopang kehidupan yaitu Matahari atau surya yang bermakna pemimpin harus mampu memberi semangat dan kehidupan bagi rakyatnya, Bulan atau Chandra harus mampu memberi penerangan serta dapat membimbing rakyatnya yang berada dalam kegelapan, Bumi atau Pertiwi yang bermakna bahwa seorang pemimpin hendaknya berwatak jujur, teguh dan murah hati, Angin atau Bayu bermakna pemimpin harus dekat dengan rakyat, tanpa membedakan derajat dan martabatnya bagai angin yang hembusannya dapat dirasakan oleh siapapun, Hujan atau Indra bermakna pemimpin harus berwibawa dan mampu mengayomi serta memberikan kehidupan seperti hujan yang turun menyuburkan tanah, Samudra atau Baruna menggambarkan betapa hati seorang pemimpin harus luas selalu menimbang sebelum memutuskan, Api atau Agni menggambarkan bahwa pemimpin harus tegas dan berani menegakkan kebenaran dan keadilan, Bintang yang berarti pemimpin harus berfungsi sebagai contoh dan tauladan. Bahwa keseluruhan makna tersebut memiliki kedalaman rasa yang sudah seharusnya direnungi oleh para pemimpin.

Nuansa budaya dalam Patung Arjuna Wijaya mengetengahkan jati diri bangsa yang senantiasa lekat dengan berkebudayaan. Patung ini merupakan produk kerjasama dari tiga sisi: Pemda DKI, Seniman dan Masyarakat Swasta/ Donatur.

Seniman Nyoman Nuarta sebagai seniman patung dan Bank OCBC NISP selaku institusi swasta yang mengambil peran dalam mewujudkan harapan-harapan tersebut diatas, untuk upaya pembangunan/ renovasi obyek dan pemeliharaan Patung Arjuna Wijaya ini secara penuh agar elemen estetika kota ini akan senantiasa tampil prima, indah dan terpelihara.

Figur kemenangan Arjuna ini seakan mengantarkan prasasti yang tertulis di pedestal patung tersebut: “Kuhantarkan kau melanjutkan perjuangan mengisi kemerdekaan dengan pembangunan yang tiada mengenal akhir.”

PENATAAN PATUNG ARJUNA WIJAYA DAN AIR MANCUR

Penataan air mancur dan Patung Arjuna Wijaya bertujuan untuk memberikan bentuk secara utuh dan indah sesuai dengan konsep yang diharapkan oleh senimannya, disamping menjaga monumentalitas karya dari patung Arjuna Wijaya yang senantiasa perlu dipelihara dengan baik, dijaga kelayakan fungsi dari semua sarana dan peralatan yang digunakan sehingga tetap dalam keadaan prima.

Didalam perjalanan waktu dari mulai dibangun, dipasang dan digunakan tentunya semua peralatan dan sarana penunjang lainnya telah dimakan usia sehingga kelayakan fungsinya sudah tidak optimal lagi dan perlu untuk ditata. Patung sendiri perlu dibersihkan dan diperbaiki serta disempurnakan dengan adanya sentuhan baru yaitu efek bayangan gerak kuda sebagai imajinasi dari senimannya. Perbaikan terhadap semua sarana peralatan air mancur, yaitu mesin pompa, pipa-pipa air, filter air, nozel termasuk peralatan ME dan Lighting diganti dengan yang baru dan perbaikan kebocoran pada kolam serta penataan taman dengan menyediakan area untuk berfoto.

Harapan kedepan pengelolaan taman seperti di Patung Arjuna Wijaya dapat juga dilakukan dan diikuti oleh pihak swasta lainnya untuk berpartisipasi terhadap taman-taman lain yang ada di provinsi DKI Jakarta.

KONSEP PATUNG ARJUNA WIJAYA, SEBAGAI BERIKUT:

  1. Olahan bentuk dasar diambil dari tokoh pewayangan Arjuna Wijaya yang sedang mengendarai kereta kuda. Kuda diolah menjadi sebuah karya yang memiliki karakter khusus yang menjadi ciri atau identitas dari olahan karya-karya.
  2. Efek transparan dari kuda ini akan memberikan kesan ringan dan menyatu dengan latar belakang langit. Dengan demikian aksentuasi akan tertumpu pada gerakan figur-figur yang mengelilingi sehingga dinamisasi dari bentuk secara keseluruhan akan terwujud.
  3. Kesan sejuk, megah, variasi dan artistik dituangkan pada air mancur. Konsep air mancur cascade akan menimbulkan variasi pandangan menjadi sejuk. Cipratan air mancur diharapkan mampu menciptakan kesan kuda berlari.
  4. Fogging memberikan kesan bahwa barisan patung kuda tersebut berlari seolah di atas awan.
  5. Pada malam hari efek gerak yang ditimbulkan oleh paduan antara bayang-bayang dan efek fogging diperkuat oleh olahan lighting yang diarahkan dengan tepat terhadap obyek dan efek bayang-bayang patung.
  6. Kesatuan bentuk secara keseluruhan dengan mudah akan dicapai dan memperkuat monumentalitas dari karya ini.