Ardan, S.m

Namanya yang asli Sahmardan. Pengarang, salah seorang "seniman Senen", pembina lenong di TIM, anggota DKJ, penulis skenario film, ahli kesenian Batawi. Lahir di Medan, tanggal 2 Februari 1932 ketika ayahnya, seorang Batawi, dan ibunya seorang Sunda asal Bogor, hidup di Medan karena ayahnya bekerja di sebuah toko potret di sana. Tapi ketika Ardan berusia 6 bulan, mereka kembali ke Jakarta dan tinggal di Kwitang.Dalam keluarganya selalu digunakan dua bahasa: Betawi dan Sunda. Baru ketika usianya menjelang setengah abad, Ardan pindah dari Kwitang, mula-mula ke Rawamangun, kemudian ke Rawabelong yang terkenal karena cerita Si Pitung. Ketika masih duduk di Taman Madya, Taman Siswa, Jakarta, pada sekitar tahun 1950, ia telah menulis dalam majalah-majalah terkemuka waktu itu seperti Pujangga Baru (Pudjangga Baru), Gelanggang, Siasat, Indonesia, Mimbar Indonesia, Zenith, Kisah, dan lain-lain.

Dialah yang pertama kali menulis cerita pendek dengan dialog berbahasa Jakarta sepenuhnya yang kemudian dibukukan dengan judul Terang Bulan Terang di Kali (1955). Sajak-sajaknya diterbitkan dalam Ketemu di jalan, bersama sajak-sajak Ayip Rosidi dan Sabron Aidit (1956), sedang sandiwara yang ditulisnya berdasarkan cerita klasik Betawi Nyai Dasima (1956). Di samping itu Ardan banyak menulis skenario film, antara lain Si Pitung (1970), Si Gondrong (1971), Brandal-brandal Sumur Tujuh (1971), Pembalasan Si Pitung (1977), dan lain-lain. Pernah menjadi wartawan olah raga surat kabar. Suluh Indonesia dan membantu beberapa majalah. Ketika TIM baru dibuka, Ardan membina rombongan lenong untuk tampil di sana. Karena dianggap banyak mengetahui, ia pun diminta membantu pembinaan kesenian Batawi lain.

Pernah menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (1982-1985,1986-1990,1999- 2000) dan anggota pengurus Lembaga Kebudayaan Betawi (1977-2000). Sejak 1978 bekerja di Sinematek Indonesia. Menyusun buku tentang film bersama Misbah Yusa Biran: Apa Siapa Orang Film Indonesia 1926-1978 (1978), Apa Siapa Orang Film Indonesia 1979-1997 (1999), Sejarah Film Indonesia 1900-1950 (1993), dan bersama dengan Kris JB: Katalog Film Indonesia 1926-1995 (1995). Ia juga banyak menulis cerpen di antaranya; "Adik, Tetangga dan Asni". Sebuah navelet yang klasik merupakan naskah sandiwara tiga babak mengangkat kisah Nyai Dasima diterbitkan Pustaka Jaya.